Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mukjizat Sains Al-Quran dan Inferiority Complex Saudi

Bila kamu menemukan buku, artikel, podcast, hingga video yang isinya segala hal tentang sains mulai dari quantum mekanik, Big Bang, Black Holes, pulsar, genetik, embriologi, thermodynamic, dkk sudah disebutkan dalam Quran 14 abad lalu, selamat. Kamu baru saja bertemu dengan genre literatur paling populer sekaligus menyedihkan di dunia Islam saat ini: literatur i'jaz.

Lebih presisi lagi i'jaz 'ilmiyah, atau mukjizat saintifik al-Quran.

Pertanyaannya, bagaimana hype ini terjadi? Well, semua dimulai dari buku ini:

Terbit pertama kali tahun 1976, buku karya Dr. Maurice Bucaille langsung meledak di pasaran. Jutaan copy terjual di dunia muslim dan telah diterjemahkan ke berbagai macam bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.

Dalam buku tersebut Bucaille beargumen bahwa dibandingkan Bible yang penuh dengan kesalahan, Quran jauh lebih dapat dipercaya karena banyak penemuan ilmiah modern yang sesuai dengan ayat-ayat Quran. Sebagai contoh, Bucaille merujuk kata ratqan di QS 21:30 sebagai bukti bahwa konsep Big Bang telah tercantum dalam Quran. Demikian pula konsep dukhan yang membenarkan teori penciptaan alam semesta yang digagas sains.

Paling terkenal adalah klaim Bucaille tentang mumi Firaun Merenptah yang menurutnya meninggal akibat tenggelam. Membuktikan kebenaran peristiwa terbelahnya Laut Merah sebagaimana tercantum dalam Quran. Dikemudian hari Semangat Bucaille untuk membuktikan kebenaran sains dalam Quran berujung pada pembentukan terminologi baru atas namanya bucailleism.

Usai La Bible, Le Coran et la science buku selanjutnya yang membawa hype adalah The Developing Human Clinically Oriented Embryology with Islamic Additions karya Keith L Moore yang terbit pada 1983. Menurut Dr. Moore dirinya benar-benar terkejut terhadap akurasi banyak ayat Quran dan hadits terkait embriologi manusia saat dalam kandungan. Menurutnya hal tersebut sangat mengagumkan mengingat pengetahun tersebut sudah ada sejak abad ke-7 jauh sebelum sains modern muncul.

Dua buku inilah yang kemudian membangkitkan gairah untuk menggali sumber-sumber ilmiah dalam Quran. Pada 1984, usaha tersebut mengkristal dalam pembentukan sebuah Komisi Ayat-ayat Saintifik dalam Quran dan Sunnah yang disokong dana besar dari Liga Muslim Dunia, dan diketuai oleh sosok kontroversial, Syheikh Abdul Majeed al-Zindani.

Agenda pertama komisi internasional ini adalah merekrut sejumlah ilmuwan Barat non-muslim untuk memverifikasi ayat-ayat i'jaz Quran. Maka pada konferensi internasional I di Islamabad pada 1987 diundanglah sejumlah ilmuwan lengkap dengan akomodasi mewah berupa tiket pesawat kelas satu untuk para ilmuwan dan istri mereka, kamar di hotel mewah, honoraria sebesar $ 1000 serta makan malam bersama Presiden Pakistan Mohammed Zia ul-Haq.

Hingga 2006 setidaknya sudah delapan konferensi digelar untuk mengkaji mukjizat ilmiah Quran. Pada konferensi terakhir di Kuwait salah satu kajian utamanya adalah penemuan obat AIDS baru berdasarkan ekstrak herbal sesuai thibb al-nabawi untuk penyembuhan berbagai macam penyakit.

Efek dari komisi ini sangat kuat terasa di seluruh dunia Islam. Di Mesir misalnya ada Zaghloul el-Naggar yang menerbitkan buku The Geological Concept of Mountains in the Qur'an (1991), kemudian di India ada P A Wahid, The Computer Universe: a Scientific Rendering of the Holy Quran (2006). Turki Adnan Oktar a.k.a Harun Yahya dengan Atlas of Creation (2007). Indonesia? Bejibun.

Sampai disini kita bisa pahami bila hype literatur i'jaz adalah fenomena global di dunia muslim dan bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah klaim-klaim tersebut benar? Saya coba rangkum sejumlah kritik terhadap pengusung ide-ide ini:

  1. William F. Campbell, direktur the National Catholic Educational Association (NCEA) mengkritik metodologi Bucaille yang berat sebelah. Menurut Campbell, saat membandingkan Bible dengan sains, Bucaille melakukan kajian dengan sangat rigor lain halnya saat Bucaille membandingkan Quran dengan sains.
  2. Komunitas Egyptologist mengkritik Bucaille karena tidak serius dalam melakukan analisis dan sangat mudah sekali mencocokkan hasil risetnya dengan Quran. Salah satunya adalah klaim Bucaille yang menganggap Merenptah meninggal akibat tenggelam bertentangan dengan konsesus sains saat ini yang menganggap penyakit atherosklerosis sebagai penyebab kematian sang firaun.
  3. J. Needham salah satu ilmuwan terkemuka dalam kajian embriologi menegaskan bahwa konsep embriologi Quran yang dikemukakan oleh Moore tidak sesuai dengan konsep sains modern, namun hanyalah echo abad ke-7 dari pemikiran Aristotle dan Ayer-Veda. Moore sendiri membenarkan pendapat Needham dan membantah segala keterlibatannya pada kajian sains dalam Islam.
  4. Sejumlah ilmuwan yang diundang ke konferensi internasional Komisi Ayat-ayat Saintifik dalam Quran dan Sunnah mengajukan komplain karena nama mereka telah dicatut diluar konteks yang ada oleh penyelenggara konferensi. William Hay, marine scientist, misalnya merasa dijebak saat diwawancarai oleh pihak penyelenggara. Sementara itu Professor Geologist Alfred Kroner mengklarifikasi bahwa pernyataannya dalam konferensi tersebut diluar konteks keilmuan dan telah dimanfaatkan kalangan muslim apologis untuk kepentingan mereka. Hal senada juga diungkapkan oleh Allison (Pete) Palmer, dan Professor Tom Armstrong.
  5. Dr. Jamil al-Mughales, kepala Layanan Klinik Imunologi of Univeristas King Abdulaziz membantah penemuan obat AIDS menggunakan ramuan Nabi. Ia bahkan menegaskan telah meneliti sendiri sampel darah yang digunakan untuk kelaim obat tersebut dan hasilnya bertentangan dengan yang ditampilkan dalam konferensi.
  6. Dari 150 artikel dan studi saintifik yang ditulis oleh Zaghloul el-Naggar yang kebanyakan terkait hubungan Quran dan sains tidak ada satupun yang pernah di peer review.
  7. Taner Edis seorang fisikawan Turki mengkritik Harun Yahya dengan menyatakan bahwa gagasan anti evolusinya tidak ada yang baru dan hanya menjiplak literatur anti-evolusi Kristen semata yang penuh dengan banyak distorsi dan disajikan untuk kalangan muslim konservatif tanpa ada basis akademik yang kuat. Sedangkan Richard Dawkins dengan lugas menyatakan bahwa Yahya "tidak tahu apa-apa tentang zoologi, biologi, dan tidak tahu apa sebenarnya yang ia kritik"

Apabila kita teliti satu persatu, latar belakang individu pengusung literatur ini kita akan menemukan sejumlah kesamaan. Pertama, Maurice Bucaille. Sebelum menerbitkan buku best seller-nya itu ia menjabat sebagai dokter keluarga Raja Faisal Kerajaan Arab Saudi. Keith Moore yang memiliki reputasi baik di Amerika Serikat pada tahun 1980 diundang oleh Arab Saudi untuk memberikan kuliah tentang anatomi dan embriologi di Universitas King Abdul Aziz. Komisi Ayat-ayat Saintifik dalam Quran dan Sunnah yang diketuai oleh Zindani didirikan di Arab Saudi pada 1984. Zindani sendiri mendirikan Universitas Iman di Yaman yang mendapat kucuran dana dari Arab Saudi dan Qatar. Dikemudian hari ia dicap oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai Specially Designated Global Terrorist terkait kolaborasinya dengan Osama bin Laden. Adapun el-Naggar merupakan Dekan Fakultas Geologi di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dzahran Arab Saudi.

Benar, semua pionir klaim sains dan teknologi dalam Quran di abad 20 memiliki relasi yang kuat dengan negara ini:

Menurut Ziauddin Sardar dalam artikelnya yang mencerahkan, keterhubungan antara penggagas lieratur i'jaz dengan Saudi ini menunjukkan gejala inferiority complex dikalangan petinggi Saudi. Pemerintah Saudi sendiri mengucurkan dana jutaan dollar untuk menyebarkan paham mereka tersebut dan efeknya sangat besar dirasakan bahkan di negara kita ini. Dan yang membuat literatur ini makin salah adalah klaim tersebut menyurutkan minat kita untuk belajar lebih banyak tentang ilmu pengetahuan dan alam semesta sertadan mereduksi semua hal tersebut kedalam kitab suci, tepat ketika bangsa kita masih bergelut melawan ketertinggalan di bidang pendidikan dan sains. Menyedihkan sekali bukan?

Sumber:

Weird science

Maurice Bucaille — Wikip├ędia

Dr. Keith Moore and the "Islamic Additions"

Adnan Oktar - Wikipedia

Zaghloul El-Naggar - Wikipedia