Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Evolusi Al-Quran 3: Kodifikasi Qiraat dan Scriptio Defectiva


Yang dimaksud dengan kanonisasi Quran yang kedua adalah pembakuan cara baca Quran kedalam tujuh cara baca, qira'at sab'ah. Proses kanonisasi kedua ini terjadi pada masa Abbasiyah setelah Mushaf Utsman menjadi mushaf standar di kalangan umat Islam.

Al-Tabari sendiri mencatat 20 ragam qiraat yang tersebar luas pada masanya meski demikian dirinya tidak membatasi qiraat mana yang benar dan mana yang salah, namun memilih beberapa qira'at yang lebih ia sukai ketimbang yang lain. Dasar utama pemilihan qira'at menurut Tabari adalah tata bahasa. Selama suatu qira'at tidak menyalahi tata bahasa Arab maka ia legal untuk digunakan. Di kemudian hari ditambahkan dua syarat lain, yakni kesesuaian dengan mushaf Utsman serta diterima banyak pihak, mutawatir.

Usaha pertama untuk pembakuan qira'at dilakukan oleh Ibn Jubayr yang menyatakan hanya lima qira'at Quran saja yang baku. Lima qira'at ini mengikuti lima kota besar yang diberikan copy mushaf Utsman yakni Mekkah, Madinah, Basrah, Damaskus dan Kufah.

Usaha Ibn Jubayr ini kemudian dielaborasi oleh Ibn Mujahid (w 936 M), yang juga belajar qiraat ke al-Tabari, yang menambahkan dua qiraat lain yang baku. Sehingga total terdapat tujuh qiraat baku. Untuk lebih jelas berikut daftar ketujuh qiraat baku dan periwayatnya menurut Ibn Mujahid:

Ibn Mujahid sendiri tidak menjelaskan mengapa ia memilih angka tujuh, beberapa riwayat kemudian menyamakan tujuh qira'at ini dengan tujuh ahruf atau model tulisan Quran, meski sebagian besar menyatakan kedua hal tersebut berbeda (Tabari misalnya, menyatakan ahruf itu sebagai mushaf para sahabat bukan qiraat).

Overall, pemilihan empat qurra tersebut menurut Ibn Mujahid dikarenakan bacaan mereka telah diterima dengan baik oleh mayoritas penduduk kota tempat mereka tinggal. Satu-satunya kota yang bermasalah dalam konteks ini adalah Kufah, dimana mushaf Utsman belum mampu menggeser pamor mushaf Ibn Mas'ud yang dominan di kota tersebut.

Sebagai solusi, ia memasukkan tiga nama 'Asim, Hamzah dan al-Kisa'i. Qira'at 'Asim sendiri tidak terlalu populer di Kufah, sementara itu Hamzah meski tergolong populer namun banyak dikritik karena tidak menguasai tata bahasa Arab dengan baik, dan oleh sebagian orang dianggap bidah. Oleh karena itu dimasukkanlah al-Kisa'i yang merupakan murid dari Hamzah, namun lebih mumpuni dalam penguasaan tata bahasa dibandingkan gurunya.

Satu hal yang membedakan antara Ibn Mujahid dengan para ahli qiraat lainnya adalah ia menggandeng pemerintah, dalam hal ini Ibn Muqla (w 940 M) yang menjabat sebagai wazir khalifah Abbasiyah ke -18 Al-Muqtadir, untuk membatasi qira'at yang dianggap menyimpang, syawadzdz. Kasus paling terkenal adalah pengadilan terhadap Ibn Miqsam (w 965 M) dan Ibn Syannabudz (w 939 M).

Kedua orang tersebut sebenarnya merupakan qari terkenal di Kufah. Ibn Miqsam sendiri melakukan pembacaan Quran berdasarkan mushaf Utsman, hanya saja ia memberikan kebebasan kepada setiap orang dalam membaca vowel setiap konsonan selama tidak melanggar kaidah tata bahasa. Adapun Ibn Syannabudz terkenal karena pembacaan Quran berdasarkan mushaf Ubay dan Ibn Mas'ud serta menolak membaca Quran berdasarkan mushaf Utsman. Kedua orang itu ditahan atas dasar penodaan terhadap Quran. Adapun Ibn Syannabudz dijatuhi hukuman cambuk sepuluh kali dan dipaksa menandatangani pernyataan untuk tidak membaca qiraat mushaf Ubay dan Ibn Mas'ud di muka umum.

Akar Masalah

Barangkali ada yang bertanya, mengapa mushaf Utsman yang pada awalnya dibuat untuk menyatukan bacaan Quran malah menyebabkan keragaman qira'at? Jawaban paling ringkas menurut saya adalah karena mushaf tersebut ditulis dalam bentuk scriptio defectiva.

Agar lebih jelas berikut komponen dari teks Quran yang kita kenal saat ini:

dan berikut model penulisan Quran pada mushaf Utsman:

Ya benar, mushaf Utsman hanya ditulis dalam bentuk rasm, tanpa i'jam dan harakat.

Sekarang mari kita lihat beberapa perbedaan dalam qira'at Hafs > 'Ashim dengan Warsy > Nafi' yang sama-sama bersandar pada mushaf Utsman:

Di baris pertama, perbedaan terjadi akibat kesulitan dalam membedakan antara huruf ta dan ya. Hal serupa juga terjadi pada baris kedua antara nun dan ta, keempat antara ba dan tsa. Sedang di baris terakhir antara ya dan nun. Selain itu ada juga perbedaan dalam menginterpretasi huruf alif dan penggunaan article fa dan wa yang bermakna maka- serta dan-.

Kesulitan membaca mushaf Utsman inilah yang membuat sejumlah pihak untuk memperbaiki teks Quran dengan penambahan i'jam oleh Abul Aswad al-Du'ali (w 688 M) dan kemudian harakat oleh al-Farahidi (w 786 M). Namun penemuan i'jam dan harakat juga menimbulkan permasalahan baru, yakni perbedaan antara qira'at menjadi lebih jelas ketimbang saat ditulis dalam model mushaf Utsman. Sehingga perbedaan cara baca sedikit pun dipandang sebagai ancaman bagi kemurnian Quran.

Keinginan untuk menyeragamkan bacaan Quran inilah yang memaksa pihak penguasa dan ulama untuk membatasi jumlah qira'at Quran. Di era Ottoman misalnya, jumlah qira'at baku mengerucut hingga menjadi riwayat Hafsh dan Warsy. Terakhir pada cetakan Quran edisi Kairo tahun 1924 (qiraat riwayat Hafsh > 'Ashim) yang sukses besar di seluruh dunia (bahkan di kalangan Syiah) barulah teks Quran menjadi seragam sebagaimana yang kita kenal saat ini.

Referensi:

C. Melchert, Ibn Mujahid and the Establishment of Seven Qiraat, Studia Islamica 2000

The Transmission of the Variant Readings of the Qurʾān_ The Problem of Tawātur and the Emergence of Shawādhdh

The Cambridge Companion to the Qur'an

The Blackwell companion to the Qur'an

John Burton, The Collection of the Qur'an

Qira'at - Wikipedia