Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Evolusi Quran 2: Mushaf Sahabat dan Kodifikasi Utsman


Sebelum Utsman melakukan kanonisasi Quran, banyak sahabat yang memiliki mushaf pribadi yang baik urutan maupun ayat-ayatnya tidak sama dengan mushaf standar Utsman. Mashahif ini dikemudian hari dibakar dan dihancurkan agar tidak ada perbedaan dalam membaca Quran di kalangan umat Islam.

Mushaf Sahabat

Mushaf Ibn Mas'ud

Mushaf ini adalah yang paling terkenal karena masih tetap dipakai oleh masyarakat Kufah hingga satu abad setelah kanonisasi. Saat pemusnahan mushaf sahabat terjadi, Ibn Mas'ud memberi perlawanan dengan menyuruh beberapa pengikutnya untuk menyembunyikan mushafnya. Mushaf Ibn Mas'ud (w. 650 M) berbeda dari mushaf Utsman dalam beberapa poin.

  • Jumlah Surat dalam Mushaf Ibn Mas'ud hanya 111 surat. Surat yang tidak terdapat dalam Mushaf ini adalah surat al-Fatihah, al-Falaq, dan al-Nas. Alasan Ibn Mas'ud tidak memasukkan surat pertama karena jika beliau memasukkan surat tersebut maka ia akan memasukkannya di setiap awal surat seperti basmalah. Sedangkan surat 113 dan 114 dipandang sebagai bentuk doa dan bukan bagian dari Quran.
  • Dalam bukunya Fihris Ibn Nadim (w. 377 H) mencatat urut-urutan surat pada mushaf Ibn Mas'ud sebagai berikut:

adapun As-Suyuthi (w. 1505 M) dalam Itqan mencatat urut-urutan surat sbb:

  • Karena ada banyak perbedaan dengan Quran standar, maka saya hanya menampilkan beberapa variasi pada mushaf Ibn Mas'ud:
    1. Kata ihdina QS 1:6 diganti dengan kata arsyidna.
    2. Kata dzalika al-kitabu pada QS 2:2 ditulis tanzilu al-kitab.
    3. Frase shummun bukmun 'umyun pada QS 2:18 ditulis shumman bukman 'umyan.
    4. Frase mimma nazzalna 'ala 'abdina pada QS 2:23 ditulis mimma anzalna 'ala 'ibadina
    5. Frase fa azallahuma al-syaithanu pada QS 2:36 ditulis fa waswasa lahuma al-syaithanu
    6. Frase wa isjudi wa irka'i ma'a al-raki'in pada QS 3:43 ditulis wa irka'i wa isjudi fi al-sajidin

Mushaf 'Ubay ibn Ka'ab

Berbeda dengan Mushaf Ibn Mas'ud yang masih memiliki pengikut, Mushaf 'Ubay termasuk diantara mushaf yang dibakar setelah kanonisasi. Mushaf 'Ubay ini digunakan di Syria. Berikut poin menonjol dari mushaf ini:

  • Berbeda dengan Ibn Mas'ud, 'Ubay memasukkan al-Fatihah dan dua surat terakhir sebagai bagian dari Quran, namun memasukkan 2 surat baru yakni Surat al-Kal' dan al-Hafd antara surat 102 dan 104.
  • Berikut urut-urutan surat yang tercatat dalam Fihris:
  • Sedang dalam Itqan urut-urutannya tercatat sbb:
  • Berikut beberapa variasi dalam mushaf 'Ubay:
    1. Frase shummun bukmun 'umyun pada QS 2:18 ditulis shumman bukman 'umyan sebagaimana Ibn Mas'ud
    2. Frase la'allakum tattaqun pada QS 2:21 ditulis la'allakum tadzakkarun
    3. Frase hudan aw nashara pada QS 2:111 ditulis yahudiyyan aw nashraniyyan
    4. Frase wa likulli wijhatun pada QS 2:148 ditulis wa likulli qiblatun
    5. Frase wa al-shalat al-wustha pada QS 2:238 ditulis wa al-shalat al-wustha wa shalat al-'ashri

Mushaf 'Ali ibn Abi Thalib

Menurut tradisi 'Ali mulai menyusun mushafnya sendiri tidak beberapa lama setelah wafatnya Nabi. Dalam banyak literatur surat surat dalam mushaf Ali disusun secara kronologis turunnya wahyu. Meski demikian, menurut al-Ya'qubi (w. 897 M) susunan surat di mushaf tersebut dibagi kedalam tujuh kelompok dengan skema sbb:

Pada saat Utsman mulai melakukan kanonisasi dengan sukarela 'Ali menyerahkan mushafnya untuk dibakar sehingga hingga saat ini, bahkan termasuk di kalangan Syiah sendiri, kita tidak memiliki bukti fisik keberadaan mushaf tersebut.

  • Berikut beberapa variasi dalam mushaf 'Ali:
    1. Frase gairi al-magdhubi pada QS 1:7 ditulis gaira al-magdhubi
    2. Frase hadzihi al-syajarah pada QS 2:35 dutulis hadziha al-syajarah
    3. Frase wa atimmu al-hajja wa al-'umrata lillah pada QS 2:196 ditulis wa aqimmu al-hajja wa al-'umrata lil baiti
    4. dst.

Kempat, mushaf-mushaf lain yang juga berbeda dari mushaf Utsman adalah mushaf Ibn Abbas, Abu Musa, Hafshah, Anas ibn Malik, 'Umar, Zayd ibn Tsabit, Ibn al-Zubayr, Ibn 'Amr, 'Aisyah, Salim, Ummu Salamah, serta 'Ubaid ibn 'Umair.

Beberapa orang yang ragu terhadap keberadaan mushaf non-Utsman mungkin mengatakan bahwa riwayat tersebut adalah fiksi, karena bagaimanapun semua mushaf tersebut tidak ada jejaknya saat ini. Hingga kemudian terjadi penemuan Manuskrip Sana'a di abad 20.

Manuskrip Sana'a

Pada tahun 1972, saat sejumlah pekerja bangunan tengah merestorasi dinding loteng Masjid Besar Sana'a, mereka menemukan tumpukan besar manuskrip dan perkamen kuno. Karena tidak mengetahui signifikansinya, para pekerja memasukkan temuan mereka kedalam dua puluh karung kentang, dan diletakkan dibawah tangga salah satu menara masjid.

Dikemudian hari Qadhi Isma'il al-Akwa' yang kemudian menjabat sebagai kepala Otoritas Kepurbakalaan Yaman menemukan manuskrip tersebut, dan pada 1979 menghubungi Pemerintah Jerman Barat untuk melakukan kerjasama restorasi naskah.

Restorasi manuskrip Sana'a ini pun dimulai pada tahun 1980. Sebanyak 12.000 fragmen perkamen, kecuali 1500–2000 dimasukkan ke 926 manuskrip Quran yang berbeda pada 1997. Semuanya didokumentasikan dalam mikrofilm kecuali sisa 1500–2000 fragmen yang dijadikan satu dalam 280 mikrofilm yang disimpan di House of Manuscripts, Dār al-Makhṭūṭāt (DAM), Sana'a.

Sebelum manuskrip kuno ini masuk kedalam proses restorasi, ada beberapa fragmen yang lolos keluar negeri. Fragmen tersebut dilelang di London antara 1992-2008 dan diberi kode Christie's 2008, Stanford 2007, David 86/2003, and Bonhams 2000. Dari empat folio fragmen yang dilelang di London inilah para akademisi memulai kajian awal dari manuskrip Sana'a.

Teks atas, dan teks bawah

Manuskrip Sana'a sejatinya adalah palimpsest, yakni tulisan awal yang berada di lembaran tersebut dihapus dan digantikan dengan tulisan baru. Meski telah terhapus, namun seiring waktu tinta yang digunakan mengalami reaksi kimiawi sehingga muncul lagi ke permukaan dan dapat diperjelas dengan bantuan sinar ultraviolet. Tulisan yang dihapus dan muncul kembali ini disebut sebagai teks bawah, sedangkan tulisan yang menimpanya disebut teks atas.

Berikut adalah teks atas dari Stanford 2007

dan ini teks bawah dari folio yang sama

Dari hasil uji karbon teks bawah, 99% kemungkinan berasal sebelum tahun 671 M. atau sekitar empat dasawarsa setelah wafatnya Nabi.

Oke kita sudah melihat fakta tentang teks atas dan teks bawah, lalu apa yang membuat manuskrip ini menarik? Well, sampai derajat tertentu keduanya berbeda. Teks atas selaras dengan mushaf Utsman, sedangkan teks bawah menggambarkan versi berbeda dari mushaf sahabat, meski tentu saja ada perbedaan antara manuskrip ini dengan mushaf Ibn Mas'ud dan Ubay.

Berikut beberapa perbedaan antara mushaf Utsman dan Sana'a Manuskrip hasil penelitian Behnam Sadeghi and Mohsen Goudarzi berjudul Ṣan‘ā’ 1 and the Origins of the Qur’ān. Karena terlalu banyak sekitar 90-an entry, maka saya hanya membatasi perbedaan yang muncul pada Quran 2:191–196 sebagaimana tercantum pada teks bawah Stanford 2007. Lingkaran merah adalah bagian ayat yang berbeda, sedangkan lingkaran biru adalah teks Sana'a manuscript yang berhasil direkonstruksi:

Untuk QS 2:195 tidak ada perbedaan. Sedang untuk 196 perbedaannya sbb:

    1. frase fama istaysara menjadi fama tayassara
    2. frase wa la tahliqu ruusakum menjadi wa la tahliqu
    3. frase fa man kana minkum menjadi fa in kana ahadun minkum
    4. frase fa fidyatun menjadi fidyatun
    5. frase min shiyamin wa shadaqatin wa nusukin menjadi min shiyamin wa nusukin.

Untuk perbandingan ketiga mushaf: Mushaf Utsman, Sana'a Manuscript, dan mushaf sahabat, dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan diatas kita bisa simpulkan bahwa sebelum kanonisasi yang diperintahkan oleh Utsman, banyak sekali variasi dalam bacaan Quran di kalangan umat Islam. Banyaknya varian Quran tersebut menunjukkan bahwa tidak ada tatanan baku dalam cara penulisan teks Quran. Baru setelah kanonisasi dilakukan Quran menjadi baku sebagaimana kita lihat saat ini. Itu pun masih harus menempuh satu fase lagi, yakni kanonisasi qira'at.


Sumber:

The Codex of a Companion of the Prophet and the Qurʾān of the Prophet by Behnam Sadeghi and Uwe Bergmann

Encyclopaedia Of The Quran