Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ismail atau Ishak, Putra Nabi Ibrahim yang Hendak Dikorbankan?

Perdebatan tentang identitas putra Nabi Ibrahim yang hendak dikorbankan selalu menjadi bahan diskusi publik yang hangat setiap Idul Adha. Sebagian besar umat Islam menyatakan bahwa yang hendak dikorbankan itu adalah Ismail. Sebagian lagi menganggap bahwa Ishaq-lah yang sebenarnya hendak dikorbankan oleh Nabi Ibrahim. Mengapa kesimpangsiuran ini bisa terjadi, dan bagaimana proses terbentuknya opini kedua belah kubu, Mari kita telusuri lebih dalam.

Korban dalam Agama Yahudi

Qurban, atau melakukan persembahan berupa makanan, benda, nyawa binatang bahkan manusia untuk tujuan yang lebih agung, terutama Tuhan, merupakan bentuk ibadah tertua yang dilakukan umat manusia. Banyak peradaban kuno mulai dari Yunani, Mesir, Babylonia, hingga Cina yang mempraktekannya. Sebagian besar menjadikan binatang ternak macam sapi, domba, dan kambing sebagai obyek persembahan. Lainnya menjadikan manusia sebagai obyek persembahan paling agung kepada Tuhan. Salah satu agama yang banyak bersandar pada ritual qurban adalah agama Yahudi.

Dalam agama Yahudi qurban juga dinamakan korban. Ritual ini dilakukan sebagai sarana penebusan dosa. Para pendeta Yahudi sendiri membagi dosa kedalam tiga tingkatan: Pertama, dosa akibat melanggar perintah Tuhan karena ketidaktahuan. Kedua, dosa akibat melanggar perintah Tuhan secara sadar. Ketiga dosa akibat melanggar perintah Tuhan sebagai bentuk pembangkangan. Untuk menebus dosa-dosa tersebut, umat Yahudi diharapkan melakukan ritual pengorbanan dengan nilai korban yang telah diatur oleh pendeta mereka menyesuaikan dengan tingkatan dosa yang dilanggar.

Pendeta Yahudi memimpin ritual korban

Ritual korban sendiri dilakukan diatas altar dan dipimpin oleh seorang pendeta dari keturunan Harun. Selain pengorban dan pendeta, ritual ini juga dihadiri oleh sejumlah saksi. Setelah disembelih, darah binatang korban kemudian dipercikkan ke altar untuk kemudian dikuliti dan dan dibakar hingga matang. Daging binatang kurban selanjutnya dimakan bersama-sama oleh keluarga pengorban. Meski korban merupakan bagian dari upaya penebusan dosa, namun ritual ini juga dilakukan sebagai bentuk rasa terima kasih serta nazar. 

Pada hari hari besar keagamaan seperti perayaan Paskah dan Yom Kippur, ribuan umat Yahudi datang ke Kuil Sulaiman sambil membawa beragam persembahan mulai buah-buahan, hasil bumi hingga binatang ternak dengan beragam motif dan tujuan. Selain dilaksanakan pada hari hari tertentu, korban juga dilakukan pada hari-hari biasa dan Sabbath, dan semuanya dilakukan di tempat yang sama.

Pada awalnya, seluruh ritual korban dilaksanakan di dalam kompleks Kuil Sulaiman. Namun setelah kuil tersebut dihancurkan oleh pasukan Romawi, ritual tersebut ditiadakan. Sebagai gantinya umat Yahudi menjalankan ritual shalat dan sedekah sebagai bentuk pertobatan guna menebus dosa-dosa mereka.

Qurban dalam Quran

Al-Quran menggunakan sejumlah kosa kata untuk menggambarkan ritual pengorbanan. Pertama adalah qurban yang juga berarti mendekatkan diri. Kata ini digunakan dalam kisah dua orang anak  Adam yang berselisih saat melakukan pengorbanan. 
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam dengan sebenar-benarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!". Saudaranya pun berkata: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". QS al-Maidah (5:27)
Kata selanjutnya yang digunakan Quran adalah dzabaha yang bermakna menyembelih. Kata ini tercantum dalam QS al-Shaffat (37:102) yang berkisah tentang dialog antara Nabi Ibrahim dengan putranya setelah beliau bermimpi menyembelih putranya tersebut.
Maka tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim pun berkata: "Wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka sampaikanlah pendapatmu!". Berkatalah sang anak: "ya bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Kata selanjutnya yang digunakan untuk menggambarkan ritual korban adalah nahar yang bermakna leher atau memotong leher. Kata ini muncul sekali dalam Surat al-Kautsar (108:2).
Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka shalatlah kepada Tuhanmu dan sembelihlah hewan korban. Sesungguhnya orang-orang yang membencimulah yang terputus.
Dari ketiga ayat tersebut, kita mendapati makna qurban dalam Quran serupa dengan makna qurban dalam agama Yahudi, yakni untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menyembelih hewan. Yang membuat qurban dalam Islam berbeda dengan korban dalam agama Yahudi adalah motif dari berkurban yang dijelaskan dalam QS al-Hajj (22:37)
Allah tidak akan pernah sedikitpun mendapat daging dan darah binatang-binatang qurban itu, tetapi ia mendapatkan ketakwaan dari kalian. Demikianlah kami mudahkan bagimu agar kamu mengagungkan Allah yang telah memberikanmu hidayah. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Ayat ini memberikan kita petunjuk tentang pergeseran makna qurban dalam dua tradisi besar agama Abrahamik. Dari sebelumnya sebagai ritual penebusan dosa, ungkapan rasa terima kasih dan nazar di agama Yahudi, bergeser menjadi ekspresi kepatuhan tanpa alasan apapun di agama Islam. Selain itu, waktu pelaksanaan qurban juga berubah, dari sebelumnya dilakukan setiap hari menjadi perayaan tahunan yang hanya dilakukan pada saat Idul Adha. 

Perubahan makna ini sangat terkait dengan konsep ibadah lain yang juga sangat penting dalam ajaran agama Islam, yakni haji.

Relasi Qurban dan Haji

Dalam Islam ritual qurban dilaksanakan pada tanggal 10 hingga 13 Dzul Hijjah yang bertepatan dengan waktu penyelenggaraan ibadah haji di Makkah. Haji menurut Quran diprakarsai oleh Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail. Kedua tokoh tersebut dipandang sebagai peletak dasar Ka'bah sekaligus orang pertama yang memulai tradisi ibadah haji di Makkah.
Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail: "Ya Tuhan kami terimalah perbuatan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" QS Al-Baqarah (2:127)
Di masa pra-Islam haji merupakan salah satu ritual penting masyarakat pagan Arab. Setiap tahun ratusan peziarah dari berbagai macam suku dan kepercayaan datang ke Makkah untuk berhaji. Mereka datang untuk menyembah tuhan mereka masing-masing yang patungnya ditempatkan berjajar di sekeliling Ka'bah. Setidaknya terdapat 360-an patung besar dan kecil yang berada di lingkungan Ka'bah mewakili jumlah hari dalam setahun. Disana, para peziarah pagan ini melakukan tawaf sambil memanjatkan doa.

Ilustrasi Ka'bah pada Masa Pra-Islam

Setelah fathul Makkah yang terjadi pada 630 M, seluruh patung di sekeliling dan di dalam Ka'bah dihancurkan. Setahun kemudian umat Islam melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya. Saat itu 300 orang jamaah dan dipimpin oleh Abu Bakr berangkat menuju Makkah dari Madinah. Ali yang diutus oleh Nabi menjabarkan konsep ibadah haji baru yang berbeda dari model haji lama yang dipraktekkan oleh masayrakat pagan Arab. Beberapa perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Haji secara eksklusif menjadi ritual khusus umat Islam dan kalangan non-muslim dilarang berhaji.
  2. Lingkungan Ka'bah harus steril dari berbagai macam patung dan berhala
  3. Jamaah haji tidak diperkenankan tawaf tanpa busana
  4. Jamaah haji dilarang membunuh binatang apapun
  5. Sa'yi antara Safa dan Marwa menjadi salah satu rukun haji
  6. Haji di Mina dan Arafah yang sebelumnya terpisah dari Makkah dijadikan satu dengan prosesi haji di Makkah
,