Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prasasti Murayghan dan Serbuan Abrahah ke Makkah

Prasasti seorang raja muda Aksum di Yaman, Abraha meninggalkan Abraha meninggalkan banyak sekali artefak sejarah. Mulai dari pendirian gereja terbesar di Arabia saat itu, Ecclesia, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan nama Qulaisy, hingga perbaikan dam Marib. Namun bagi sebagian besar umat Islam, pertanyaan utama yang mencuat tatkala mendengar nama tersebut adalah apakah ada bukti sejarah yang mencatat penyerangan sang raja muda ke Makkah? Guna menjawab hal tersebut mari kita telaah salah satu prasasti peninggalan Abrahah yang paling kontroversial, Murayghan Ry 506. Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh seorang orientalis bernama Gonzague Ryckmans dalam sebuah ekspedisi bersama dua rekannya ke Arab Saudi pada tahun 1951–1952. Murayghan sendiri terletak diantara kota Tatslits dan Yadamah. Berdasarkan hasil analisis, prasasti ini diperkirakan ditulis pada tahun 552 dalam bahasa Saba menggunakan aksara Arab Selatan Kuno.Yang membuat prasasti ini kontroversial adalah penafsiran terhadap makna yang dikandungnya. Secara umum para sarjana terbagi kedalam dua kubu dalam menyikapi isi dari prasasti ini.

Pertama, mereka yang beranggapan bahwa inskripsi itu merujuk pada penyerangan Pasukan Gajah Abraha ke Makkah. Pandangan ini dikemukakan oleh akademisi Inggris A. F. L. Beeston yang menginterpretasi prasasti tersebut sbb:

Dengan kuasa sang Maha Pengasih dan Mesiahnya.

Raja Abraha menulis prasasti ini setelah menyerang Ma'add pada keempat razzia pada bulan 'ITBN [April], ketika seluruh Bani Amir memberontak.

Sekarang raja mengirim 'BGBR bersama suku Kindah dan Aliah, dan BSR bin HSN bersama suku Sa'diyah dan kedua komandan pasukan ini berperang dan bertempur, pasukan Kindah melawan Bani Amir dan pasukan Muradiyah dan Sa'diyah melawan ... pada jalur TRBN dan mereka membantai dan menawan musuh serta menjarah harta rampasan dalam jumlah banyak. Sedangkan raja juga berperang di Haliban dan (pasukan Ma'add) kalah dan dipaksa memberi tawanan.

Setelah itu Amr bin al-Mundzir yang ditunjuk sebagai gubernur Ma'add oleh ayahnya, berunding (dengan Abraha) dan setuju untuk memberikan tawanan dari al-Mundzir kepada Abraha.

Menurut Beeston, prasasti tersebut menunjukkan adanya dua pasukan. Pasukan pertama menuju ke jalur TRBN dan mereka kalah, sedang pasukan kedua dipimpin oleh Abraha dan mereka menang.

TRBN sendiri diartikan sebagai Turabah, terletak di sebelah Timur Thaif, dengan demikian dekat dengan Makkah. Menurut Beeston pasukan yang kalah inilah yang kemungkinan besar menyerang Makkah dan merupakan Pasukan Gajah sebagaimana termaktub dalam Quran.

Pendapat Besston ini diperkuat oleh M. J. Kister yang mengutip Al-Zuhri dalam bukunya Nasab Quraysh. Menurut Al-Zuhri, orang-orang Quraisy biasa mencatat even penting sebelum Hijrah 622 sbb:

  • dari Tahun Gajah ke perang Fijar: 40 tahun
  • dari perang Fijar ke Wafatnya Hisyam bin Mugirah: 6 tahun
  • dari wafatnya Hisyam ke pembangunan Ka'bah: 9 tahun
  • dari pembangunan Ka'bah ke Hijrah: 17 tahun

Jika Hijrah terjadi pada 622 M, maka penanggalan pada prasasti tersebut cocok dengan perhitungan al-Zuhri. Dengan demikian, prasasti Murayghah merujuk pada penyerangan Kabah oleh Tentara Gajah.

Kedua, mereka yang beranggapan prasasti tersebut merujuk pada ekspedisi Abraha sebelum menginvasi Makkah. Pandangan ini dikemukakan oleh Abdel Monem A. H. Sayed. Ia pun menginterpretasi prasasti Murayghan sbb:

Dengan kuasa sang Maha Pengasih (Rahman) dan Mesiah-Nya

Raja Abraha Zybmn, raja Saba dan Dzu Raydan dan Hadramaut dan Yamnat beserta orang-orang Arab di dataran tinggi dan pantai, menulis prasasti ini setelah menyerang Ma'add pada hari keempat razzia bulan 'ITBTN [April] saat seluruh Bani Amir memberontak.

Raja menunjuk 'BGBR bersama Kinda dan 'Ala dan menunjuk Bishr bin Hisn bersama Sa'd dan Murad, dan mereka hadir di hadapan pasukan utama guna melawan Bani Amir di lembah Dzu Markh dan Murad serta Sa'd di sebuah lembah di jalur TRBN, dan mereka membantai serta membawa tawanan dan harta rampasan dalam jumlah yang banyak.

Sang raja sendiri juga berperang di Haliban dan mengejar pasukan Ma'add laksana bayangan dan memaksa mereka untuk menyerah. Setelah itu Amr bin al-Mundzir yang ditunjuk sebagai gubernur Ma'add oleh ayahnya, berunding (dengan Abraha) dan setuju untuk memberikan tawanan dari al-Mundzir kepada Abraha.

Setelah itu Abraha kembali dari Haliban dengan kuasa sang Maha Pengasih pada bulan d-'LN (September), tahun 662

Menurut Sayed, inskripsi tersebut menceritakan adanya 2 pasukan yang menyerang Ma'add. Pasukan utama dan pasukan pendukung. Pasukan pendukung datang dari utara, sedangkan pasukan utama yang dipimpin Abraha dari selatan. Kedua pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Bani Amir dan memadamkan pemberontakan mereka. Selain itu ketiadaan kata yang menyebut kota Makkah membuatnya berkesimpulan inskripsi tersebut tidak merujuk pada Pasukan Gajah, tatapi ekspedisi Abraha lainnya.

Sayed juga mengkritik pendapat al-Zuhri yang menurutnya adalah pandangan minor dalam sejarah Islam. Ia juga menambahkan kalau menggunakan perhitungan al-Zuhri maka Nabi setidaknya wafat di umur 80 tahun bukan 62 tahun sebagaimana umum dipercayai umat Islam.

Sumber:

EMENDATIONS TO THE BIR MURAYGHAN INSCRIPTION Ry 506 AND A NEW MINOR INSCRIPTION FROM THERE

Abraha and MuḼammad: Some Observations Apropos of Chronology and Literary "topoi" in the Early Arabic Historical Tradition