Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pasukan Gajah dan Ka'bah: Tafsir Thayran Ababil dalam Surah al-Fil

Pembacaan atas Surat al-Fil QS. 105 tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari penafsiran term thayran ababil sebagaimana tercantum dalam ayat ketiga surat tersebut. Bahkan bisa dibilang ayat inilah yang membangun keseluruhan narasi dari "Surat Gajah". Penafsiran umum dikalangan umat Islam adalah term tersebut merujuk kepada burung mitis yang menjadi penjaga utama Ka'bah. Burung inilah yang mencegah Abrahah dan pasukan gajahnya dari menghancurkan ka'bah. Meski penafsiran thayran ababil sebagai burung Ababil ini diterima hampir secara mutlak oleh banyak ulama tradisionil, namun di era modern saat ini kevalidannya dipertanyakan. Bagaimana menjelaskan fenomena burung penjaga ini secara rasional? Adakah bukti empirik keberadaan burung tersebut? Bila kehancuran pasukan Abrahah terjadi secara fenomenal adakah catatan sejarah terutama di Kerajaan Aksum yang mencatat peristiwa tersebut?

Tafsir Alternatif 1

Guna menguak makna thayr ababil saya akan menyajikan beberapa penafsiran terhadap komponen term tersebut. Pertama, kata thayr dalam Quran tidak selalu bermakna burung. Dalam QS al-A'raf (7:131) bentuk verbal dari kata tersebut, yathayyaru, berarti menimpakan penyebab kesialan kepada seseorang, dalam konteks ayat ini adalah Musa. Demikian pula dalam QS Yasin (36:18) kata tathayyarna juga berarti nasib buruk dan kesialan. Kata itu kemudian diperkuat dengan bentuk thair pada ayat selanjutnya yang berarti sama.

Saat Yusuf dipenjara, salah seorang narapidana bermimpi burung memakan roti diatas kepalanya. Yusuf yang pandai mentakwil mimpi langsung mengerti bahwa si narapidana akan dihukum mati oleh penguasa, QS Yusuf (12:36–41). Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa makna kata thayr bukan saja bermakna burung, tapi juga nasib buruk, kesialan, atau bahkan bala bencana.

Kedua, kata ababil dalam Bahasa Arab bermakna datang dalam jumlah banyak dan bertubi-tubi, jama'at mutatabi'ah. Meski demikian beberapa sarjana Barat macam Arthur Jeffery menganggap kata ababil bukan berasal dari Bahasa Arab, melainkan serapan dari bahasa Persia abilah, (plr.) ababil yang bermakna cacar, smallpox. Pendapat Jeffery ini bersumber dari seorang penjelajah Inggris Richard Burton dalam Five Books of Exploration and Travel.

Bila kita bandingkan kedua pendapat ini sebenarnya sangat mirip, bagaimanapun juga cacar menyerang tubuh manusia dalam jumlah banyak dan bertubi-tubi. Dan bentuk cacar sendiri berupa bisul bisul kecil di sekujur tubuh terasa seperti kerikil-kerikil panas yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh orang yang terjangkit virus. Quran dengan puitis menggambarkan peristiwa tersebut laksana daun yang dimakan ulat, habis tidak bersisa.

Sampai disini kita sudah mendapatkan perspektif baru tentang frase thayr ababil dalam Quran yang merujuk kepada nasib buruk yang menimpa pasukan Abrahah, yang dapat dimaknai sebagai wabah cacar. Kesulitan utama dari tafsir ini adalah dalam banyak kamus Bahasa Arab, kata thayr selalu dimaknai sebagai burung, bukan nasib buruk. Sedangkan mentautkan kata ababil dengan abilah dalam bahasa Persia menurut penulis tergolong problematik. Untuk itulah kita membutuhkan tafsir lain yang cukup natural dari segi kebahasaan.

Tafsir Alternatif 2

Penafsiran alternatif kedua ini sebenarnya didasarkan pada penterjemahan Quran kedalam Bahasa Inggris oleh Muhammad Assad dalam The Message of Quran. Sebagaimana ulama tradisional Islam, Assad tidak menolak makna kata thayr sebagai burung, tapi mengelaborasinya lebih dalam. Menurut Asssad, kata thayr tidak terbatas pada spesies burung saja, tapi juga mencakup spesies lain yang dapat terbang atau karena wujudnya yang sangat kecil bisa terbang hanya dengan hembusan angin saja. Dalam konteks ayat ini ia mengusulkan kata virus sebagai entitas yang dapat terbang menggantikan burung.

Tentu saja infeksi virus terjadi dalam jumlah besar dan sangat intens. Dalam konteks ini kata ababil dapat digunakan secara natural sebagai pewujudan penyebaran virus yang sangat masif di kalangan Pasukan Gajah. Guna mendukung argumentasinya tersebut, Assad mengutip pendapat Ibn Ishaq dalam Sirah Nabawiyah yang menyatakan bahwa wabah cacar yang terjadi pertama kali di tanah Arab, bertepatan dengan penyerbuan Abraha ke Makkah.

Meski secara substansial berbeda, namun baik tafsir alternatif 1 dan 2 sama-sama berujung pada kesimpulan yang sama. Bahwa penyebab utama kegagalan misi Abrahah ke Makkah bukanlah burung Ababil, melainkan wabah penyakit yang disebabkan entah oleh virus maupun bakteri. Pertanyaan selanjutnya yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana kita memverifikasi pendapat tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan mengemukakan dua argumentasi, retorik dan empirik.

Argumen Retorik

Argumen retorik tentang kemitisan burung Ababil sebenarnya dapat dilihat dari sejarah Ka'bah sendiri, terutama setelah kelahiran Islam. Setidaknya terdapat sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menodai kesakralan Ka'bah tanpa keikutsertaan burung Ababil. Event historis tersebut terjadi pada tahun 683, 692, 930, dan terakhir 1970. 

Pertama, peristiwa tahun 683: Ditengah memanasnya Fitnah Kedua Makkah dikepung oleh pasukan Umayyah yang dipimpin oleh Husayn ibn Numayr. Ibn Zubayr yang menjadi pesaing dari Bani Umayyah membangun pos komando di sekitar Ka'bah. Selama 64 hari Makkah dikepung.

Struktur kayu dilapisi matras dibangun untuk melindungi Ka'bah dari lontaran katapult, manjaniq, yang dipergunakan Husayn untuk membombardir kota tersebut dengan batu. Akibat suatu insiden, kayu pelindung Ka'bah terbakar dan menghanguskan bangunan tersebut. Ka'bah pun roboh dan hajar aswad pecah. Hingga saat itu Ka'bah masiih menggunakan campuran struktur kayu dan batu.

Ketika kabar meninggalnya Yazid ibn Muawwiyah sampai ke telinga Husayn, pengepungan pun berakhir. Sejumlah penduduk Makkah yang sebelumnya kabur karena takut akan datangnya "burung Ababil" kembali untuk membantu Ibn Zubayr membangun kembali Ka'bah. Ibn Zubayr sendiri membangun Ka'bah dalam format persegi panjang dengan memasukkan hatim kedalam struktur Ka'bah. Menurut Ibn Zubayr berpendapat bahwa Nabi Muhammad sebenarnya ingin merubah layout Ka'bah sebagaimana yang ia lakukan, tapi masyarakat Quraisy menentangnya.

Kedua, peristiwa tahun 692: Pasukan Umayyah kembali mengepung Ka'bah untuk memaksa Ibn Zubayr menyerah. Kali dipimpin oleh Hajjaj ibn Yusuf. Selama 7 bulan Makkah dibombardir oleh pasukan Hajjaj. Saat tembok Ka'bah roboh terkena lontaran katapult, petir menyambar dan pasukan Umayyah berhenti menyerang karena takut azab ilahi. Sayangnya Hajjaj adalah orang yang sangat rasional ia menjelaskan bahwa petir itu fenomena alam biasa dan menyuruh pasukannya untuk kembali menggempur Makkah. Kali ini Umayyah sukses. Ibn Zubayr pun menyerah dan dihukum pancung. Layout Ka'bah pun dikembalikan ke bentuk semula kubus dan kali ini seluruh strukturnya dibangun menggunakan material batu. Dikemudian hari, Hajjaj menyesal telah merombak layout Ka'bah yang dibangun oleh Ibn Zubayr.

Ketiga, peristiwa tahun 930: Ketika pamor Abbasiyah meredup, sekelompok pasukan Syiah Qaramitah dibawah pimpinan Abu Tahir al-Jannabi menyerang Makkah pada saat pelaksanaan haji berlangsung. Disana ribuan jamaah haji dibantai dan mayat mereka dimasukkan kedalam sumur zamzam. Hajar Aswad pun diambil dan selama 21 batu tersebut berada ditangan al-Jannabi di al-Hasa. Khalifah Abbasiyah dan Fatimiah berulang kali memohon agar batu tersebut dikembalikan ke Ka'bah namun selalu gagal. Baru setelah al-Jannabi meninggal Hajar Aswad dikembalikan lagi ke Ka'bah.

Keempat peristiwa tahun 1979: 20 November 1979, hari pertama di tahun 1400 H Makkah diserbu pasukan Juhayman al-Otaybi, yang ingin memurnikan ajaran Islam di kerajaan Saudi Arabia yang dianggap korup. Ratusan jamaah dan pasukan dari pihak Saudi dan Otaybi tewas saat mereka berhasil menguasai Ka'bah selama 2 minggu.

Berdasarkan fakta-fakta sejarah tersebut, kita bisa menyusun pertanyaan retorik kemana "burung Ababil" berada dalam peristiwa-peristiwa yang menodai kesucian Ka'bah itu? Apa mereka lebih memilih menghancurkan pasukan Abrahah yang belum pernah sedikit pun sampai ke Ka'bah ketimbang mencegah peristiwa-peristiwa gila yang kebetulan pelakunya adalah umat Islam juga?

Argumen Empirik

Sebagai seorang raja muda, Abraha sebenarnya tergolong sukses mengelola wilayah jajahan. Tercatat sejumlah prasasti atas namanya tersebar di wilayah Arab Selatan maupun Tengah. Sayangnya tidak ada catatan satupun prasasti yang mencatat penyebab kematian Abrahah.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana kita memverifikasi kejadian tersebut? Well jika anda buka catatan sejarah, maka era Late Antiquity yang merentang sejak perang Romawi-Persia, hingga awal berdirinya Dinasti Abbasiyah adalah masa dimana pandemi wabah pertama kali tercatat dalam sejarah manusia.
  1. John of Ephesus, Pemimpin Gereja Orthodox Syria, dalam bukunya Lives of the Eastern Saints mencatat asal usul wabah Boubonic yang berasal dari Ethiopia kemudian menyebar ke Himyar (Yaman), Mesir lalu Byzantium dan Eropa dimulai antara 541–542. Sementara Jacob of Edessa mencatat asal muasal wabah berasal dari India, Persia, kemudian Ethiopia. Antara 541–549 wabah menyebar ke seluruh Romawi Timur dan dikenal dengan nama Wabah Justinian
  2. 541 wabah menyebar di Prancis
  3. 590 di Roma
  4. 627–628 wabah Sheroe melanda Persia
  5. 638–639 wabah amwas melanda Syria kembali pada masa Bani Umayyah
  6. 664 wabah serupa sampai ke Inggris
  7. 698–701, dan 746–747 wabah kembali lagi melanda seluruh wilayah Bani Umayyah, Byzantium dan India
Tentu saja ada perbedaan antara wabah bubonik, amwas, Black Death dan yang sejenis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia Pestis dengan wabah cacar atau smallpox yang disebabkan oleh virus Variola Major dan Variola Minor. Tapi pada masa dimana manusia belum dapat membedakan virus dan bakteri, rasanya cukup aman jika kita mengartikan kata abilah untuk merujuk pula pada wabah yang disebabkan oleh bakteri Yersina Pestis.

Tambahan




Pertanyaan saya sih sederhana, 
Ibn Ishaq dalam Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa kemunculan penyakit cacar pertama kali di tanah Arab bertepatan dengan tahun penyerangan Ka'bah oleh Abrahah.
Muhammad Asad dalam The Message of Quran menafsirkan kata thayr ababil sebagai virus menular

Sumber: