Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kenapa Babi Haram?

Pertanyaan kenapa babi haram telah lama menggoda banyak intelek. Dalam Fiqh, daging babi tergolong haram li dzatihi yang berarti ia dilarang karena secara intrisik dagingnya sudah haram. Haram jenis ini berbeda dari haram li gairihi macam bangkai ayam yang tidak boleh dikonsumsi bukan karena daging ayam haram tapi karena ayam tersebut telah mati tanpa terlebih dahulu disembelih dengan cara yang benar.

 Etologi Babi

Meskipun pembedaan haram ini sangat membantu dalam mendefinisikan hukum Islam, namun pertanyaan utama kenapa babi haram tetap tidak terpecahkan. Usaha awal untuk memahami keharaman babi secara rasional datang dari Musa ibn Maymun yang menjelaskan keharaman babi karena perilaku dan makanan babi sangat jorok dan kotor. Penjelasan dokter istana Shalahuddin al-Ayyubi ini menjadi satu-satunya jawaban rasional hingga 1859 ketika untuk pertama kalinya keharaman daging babi dikaitkan secara khusus dengan keberadaan penyakit, trichinosis¹.

Seiring waktu sejumlah penyakit baru ditemukan dan diketahui bersumber dari babi. Seperti Brucellosis, Cryptosporidiosis, Cysticercosis, taeniasis, Echinococcosis, Leptospirosis, infeksi Virus Nipah, hingga swine flu. Penemuan penyakit-penyakit baru ini diangkat oleh sejumlah kalangan dan dijadikan argumen medis-ilmiah mengenai larangan mengkonsumsi daging babi. Tuduhan tersebut diperkaya dengan pengamatan yang buruk terhadap perilaku babi di peternakan yang digambarkan sebagai binatang yang kotor, jorok dan bau sehingga tidak layak dikonsumsi.

Untungnya dengan perkembangan ilmu pengetahuan kita juga bisa mengetahui bila babi bukan satu-satunya hewan ternak yang bernasib malang menjadi sumber penyakit. Baik sapi, kambing dan domba, sama-sama rentan menjadi sumber penularan penyakit yang membahayakan manusia. Macam Anthrax, Clamydiosis, Creutzfeldt-Jacob disease, Crimean-Congo Hemorrhagic, Cryptosporidiosis, Fasciolosis, diare, Giardiasis, Orf, Q Fever, Rabies, hingga TBC. Bahkan binatang yang tidak terlalu banyak diternak diluar Timur Tengah seperti unta juga diketahui membawa virus mematikan, MERS Coronavirus.

Berbagai macam studi dalam Etologi juga berperan memberikan pemahaman lebih baik mengenai perilaku babi. Misalnya anggapan bahwa babi adalah binatang kotor yang tidur dan makan kotorannya sendiri tidak lebih dari stereotip yang muncul akibat kondisi peternakan yang buruk. Di habitat aslinya babi tergolong binatang yang bersih, 90% makanan mereka berasal dari tumbuh-tumbuhan sehingga tidak memiliki selera untuk makan kotoran sendiri. Di Kebun Binatang Basel, Swiss, misalnya sejumlah babi bahkan terkenal karena kebiasaan mereka untuk mencuci terlebih dahulu buah-buahan yang kotor akibat lumpur sebelum dimakan².

Kebiasaan babi untuk berkubang sering pula dijadikan alasan mengenai gaya hidup binatang ini yang jorok dan kotor. Yang sebenarnya terjadi babi tidak memiliki kelenjar keringat untuk menurunkan suhu tubuhnya terutama di hari yang panas. Satu-satunya cara bagi babi adalah dengan berkubang di lumpur. Selain itu lapisan lumpur yang melekat di kulit juga berfungsi sebagai krim matahari untuk mencegah kulit agar tidak terbakar, sekaligus sebagai cara untuk mengusir gigitan serangga dan parasit. Dengan kata lain, babi berkubang untuk membuat kulit mereka menjadi bersih bukan kotor.

Sampai disini kita akan berpikir, bila babi tidak lebih buruk dari binatang ternak lainnya, bahkan lebih baik, lalu apa alasan paling masuk akal yang membuat daging babi menjadi haram? Guna menjawab pertanyaan besar ini mau tidak mau kita harus menyelami sejarah peternakan babi dan interaksi mereka dengan manusia terutama di Timur Tengah, tempat dimana tabu ini berasal.

Budaya dan Agama

Domestikasi babi di Timur Tengah dimulai pada milenium ketujuh sebelum Masehi, tidak lama setelah domestikasi domba dan kambing. Jenis babi yang didomestikasi adalah Sus Scrofa atau Babi Hutan. Babi ini banyak ditemukan di Anatolia dan wilayah Asia Barat lainnya. Dari sana babi menyebar ke Mesopotamia, Levant, hingga Mesir. Tidak diketahui apakah penyebaran babi di Timur Tengah akibat campur tangan manusia atau migrasi alamiah kawanan babi.

Berdasarkan penggalian arkeologis di beberapa tempat di bulan sabit subur, ditemukan sisa-sisa sejumlah tulang belulang babi. Sebagian besar penemuan ini berada di wilayah Philistine, Mesopotamia, Syria, dan Mesir. Tulang belulang tersebut diperkirakan berasal dari milenium kelima hingga ketiga SM. Yang mengejutkan, dari milenium kedua hingga pertama SM jumlah tulang belulang babi yang ditemukan semakin sedikit. Hal ini menunjukkan adanya penurunan domestikasi babi di wilayah tersebut.

Mengapa terjadi penurunan domestikasi babi? Guna menjawab pertanyaan ini kita harus mengetahui bagaimana interaksi manusia dan babi di Timur Tengah pada masa lalu.


Secara fisiologis, babi tidak termasuk binatang ruminan sebagaimana sapi, domba dan kambing. Ruminan adalah binatang dengan lambung khusus yang terdiri dari empat kompartemen yang berguna untuk mengolah makanan dengan kadar fiber dan selulosa yang tinggi, macam rerumputan dan jerami melalui fermentasi dengan bantuan mikroba sebelum masuk ke saluran cerna.

Karena bukan tergolong ruminan, maka diet babi berbeda dengan diet kambing, domba dan sapi. Ia tidak dapat mencerna makanan yang terlalu kasar seperti rumput dan jerami dan lebih memilih yang lebih lembut mirip dengan makanan manusia. Perbedaan fisiologi sistem digestif babi inilah yang membuat babi tidak dapat digembala di padang rumput, melainkan dipelihara di pekarangan rumah.

Sebagai binatang yang dipelihara di pekarangan rumah, pakan babi serupa dengan makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Kesamaan diet babi dan manusia inilah yang membuat masyarakat Timur Tengah pada masa lalu menjadikan babi sebagai “mesin pengolah limbah rumah tangga” pertama di dunia. Dimana babi yang diternakkan di pekarangan rumah diberi makan dari sisa-sisa makanan si pemilik. Di sejumlah kota, mereka bahkan dibiarkan berkeliaran bebas guna membersihkan sampah di jalanan.

Babi sendiri memang dipelihara untuk diambil dagingnya, tapi komoditas paling mahal yang dihasilkan dari babi adalah lemaknya. Lemak babi banyak digunakan sebagai bahan pembuat parfum dan obat-obatan. Sedangkan dagingnya seringkali dijual ke sesama pemakan babi untuk ditukarkan dengan bahan keperluan lainnya.

Daging babi sendiri menempati posisi terbawah dalam hirarki pangan masyarakat Mesir. Pada masa lalu para raja dan kalangan elit bangsawan menjadikan sapi sebagai makanan utama mereka. Adapun kelas menengah memakan domba dan kambing, sedangkan rakyat miskin dan jelata mengkonsumsi daging babi. Hal inilah yang membuat pemeliharaan babi bebas pajak berbeda dengan pemeliharaan sapi, domba dan kambing yang dikenakan pajak binatang oleh para penguasa.

Asosiasi babi sebagai mesin pengolah limbah dan derajatnya sebagai daging untuk kalangan masyarakat kelas bawah berimbas pada perlakuan diskriminatif terhadap hewan ini. Di banyak kota di Mesopotamia, Philistine dan Mesir, babi dan juga anjing dilarang memasuki kuil karena dinilai bukan binatang bersih. Horodotus mencatat, orang yang tanpa sengaja menyentuh babi akan segera terjun ke sungai Nil tanpa melepas baju sama sekali guna membersihkan diri mereka dari najis. Bahkan terdapat catatan dimana seseorang membatalkan ibadah korban setelah melihat babi menginjakkan kaki mereka di kuil.

Walaupun institusi sosial dan agama memandang rendah babi, namun babi masih menjadi salah satu hewan korban masyarakat. Pengorbanan babi biasanya berhubungan dengan perempuan karena posisi babi sebagai “hewan rumahan”. Untuk dapat mengorbankan babi, dibutuhkan ritual keagamaan yang rumit dan prosedur ketat. Oleh karenanya pengorbanan babi seringkali dikaitkan dengan ritual kesuburan dan black magic.

Dalam Book of Dead bangsa Mesir, salah satu tuhan utama bernama Seth digambarkan dalam bentuk babi hitam tengah berkonfrontasi dengan saudaranya, Horus, saat memperebutkan Mesir. Seth yang merupakan tuhan kekacauan ini kemudian membunuh Osiris dan menjadi archetype bagi ancaman abadi terhadap kedamaian kerajaan. Untuk mencegah Seth dari menjalankan aksinya dan menebar kekacauan di Mesir, para pendeta setiap tahun menggelar ritual pengorbanan babi di tepi Sungai Nil. Pada upacara tersebut babi yang dikorbankan secara brutal dipotong-potong hingga hancur dan sisanya disebar ke sungai.

Alam dan Ayam

Faktor lain yang turut mempengaruhi persepsi masyarakat Timur Tengah terhadap pemeliharaan babi adalah ekologi. Menurut Marvin Harris, pada saat babi mulai didomestikasi di wilayah tersebut, terdapat banyak perbukitan hijau dan hutan yang menyediakan tempat yang tepat bagi habitat babi. Hal serupa juga ditemui sepanjang bantaran Sungai Nil yang kerap dilanda banjir yang menyuburkan area sekitar yang kadang berlumpur.

Kondisi tersebut kemudian berubah seiring menyebarnya aktivitas pertanian bercampur dengan penggembalaan ratusan ribu hewan ternak. Membuat ribuan hektar hutan beralih fungsi menjadi padang rumput, kemudian padang pasir. Di Anatolia misalnya, laju deforestasi mencapai 70% hingga milenium kelima. Sementara itu di Levant, hutan-hutan kecil mulai dibabat habis menyisakan sedikit tempat bagi habitat babi liar.

Efek dari itu semua, babi yang kehilangan tempat untuk berteduh dan mencari makan terpaksa diberi pakan dengan gandum dan makanan lain yang biasa dimakan manusia. Meski sering dijadikan “tempat pembuangan sisa-sisa makanan”, namun dimasa-masa panceklik saat makanan sangat susah didapat, tidak jarang manusia dan babi saling bersaing satu sama lain untuk memperebutkan sumber makanan yang sama. Dilema ini berakhir menjelang milenium keempat bertepatan dengan diperkenalkannya domestikasi ayam di Timur Tengah.

Sebagaimana babi, ayam juga dipelihara di pekarangan rumah dan kerap memakan sisa-sisa makanan manusia. Namun dibandingkan ternak babi yang sangat boros air dan berukuran besar, memelihara ayam jauh lebih menguntungkan. Selain lebih tahan terhadap iklim yang panas, ayam juga lebih portable. Ia bisa menyesuaikan dengan gaya hidup semi-nomaden masyarakat levant yang kerap berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ukurannya yang kecil juga membuat pengolahan daging ayam tidak seberat mengolah daging babi. Disamping itu, ayam memberikan bonus protein tambahan yang tidak bisa didapat dari babi, yakni telur.

Maka tatkala masyarakat Timur Tengah kuno diberi pilihan antara memelihara ayam atau babi, maka sangat rasional bila secara alamiah mereka memilih ayam sebagai binatang pilihan untuk diternak.

Babi dan Unta

Kita sudah melihat bagaiman posisi babi dalam hirarki konsumsi masyarakat Timur Tengah kuno. Sekarang kita akan membandingkan sudut pandang dua kitab suci yang menjadi sumber utama larangan konsumsi babi hingga saat ini, Bible dan Quran. Bible sendiri menggunakan konsep kosher untuk menggambarkan binatang yang boleh dimakan. Istilah ini menyerupai konsep halal dalam Quran dengan sejumlah perbedaan mendasar yang akan kita lihat dibawah ini.

Dalam Bible, larangan mengkonsumsi babi dan binatang tidak kosher lainnya diuraikan dengan lengkap dalam Leviticus 11. Di ayat tersebut, dijelaskan tentang kriteria binatang kosher, yakni memamahbiak dan berkuku belah. Menurut Bible, babi dianggap tidak kosher karena meskipun temasuk binatang berkuku belah, tapi ia bukan binatang memamahbiak. Berlawanan dengan babi, terdapat unta, pelanduk dan kelinci, yang juga tidak kosher, karena meski tergolong binatang memamah biak tapi mereka bukanlah binatang berkuku belah.

Selain kriteria memamahbiak dan berkuku belah, Bible juga memasukkan kriteria lain berupa: harus bersisik dan bersirip untuk ikan; tidak boleh bersayap dan merayap untuk serangga; beberapa burung macam burung rajawali, burung hantu, segala jenis elang, nasar, gagak, burung unta, camar, blekok dan segala jenis bangau, undan, burung kasa dan kelelawar adalah tidak kosher; Demikian pula Tikus tanah, tikus besar, tikus kecil, kadal, segala jenis katak, landak, biawak, bengkarung, siput dan bunglon; bangkai binatang, dan semua orang atau benda yang tertimpa bangkai tersebut tergolong najis dan tidak kosher.

Berbeda dengan Bible konsep halal dalam Quran jauh lebih luas ketimbang kosher. Hal ini bisa kita temukan dalam QS al-Maidah:3

Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib dengan anak panah adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa terhadap agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bila kita bandingkan antara konsep kosher dan halal, kita akan menemukan perbedaan utama yang absen dalam deskripsi Quran, yakni kriteria memamahbiak dan berkuku belah untuk hewan darat. Sehingga alih-alih menggunakan alasan bukan hewan memamahbiak, Quran secara langsung menyebut babi sebagai binatang yang haram.



Tidak adanya keterangan bagi keharaman babi ini memunculkan tanda tanya besar, kenapa Quran tidak mengadopsi kriteria kosher sebagaimana Bible? Jawaban paling sederhana mengenai hal ini dalam hemat saya disebabkan oleh unta. Berbeda dengan Judaisme, Islam secara terang-terangan mengkategorikan unta sebagai salah satu binatang halal.

Kehalalan unta sendiri bisa dijelaskan dalam dua aspek, yakni aspek sosio-kultural dan legal. Secara kultural unta merupakan binatang penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat Arab. Dengan unta mereka mampu berpergian jauh menembus padang pasir untuk berdagang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam perjalanan panjang itu, terkadang unta turut dimakan agar bisa survive dan selamat sampai tujuan. Selain daging, unta juga menghasilkan susu yang merupakan salah satu sumber nutrisi penting di Arabia yang gersang dan tandus. Mengharamkan unta yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Arab adalah sebuah kesalahan besar. Bangsa Arab tanpa unta tidak ubahnya bangsa Mongol tanpa kuda, mereka tidak akan keluar dari kelokalannya dan menjadi pemimpin di kawasan.

Aspek selanjutnya dari halalnya unta adalah konsep Bible tidak cukup kuat dalam memvonis suatu hewan menjadi tidak bersih. Setidaknya dibutuhkan dua kriteria agar seekor binatang menjadi kosher, yakni berkuku belah dan memamahbiak. Sebaliknya hanya butuh satu kriteria saja agar binatang tersebut menjadi tidak suci. Keterbatasan konsep ini menyebabkan derajat ketidaksucian babi misalnya sama dengan unta. Karena unta sendiri tergolong binatang halal, maka menggunakan cara berpikir seperti ini kita akan sampai pada kesimpulan bahwa babi sendiri tergolong binatang halal.

Guna memecah kebuntuan logis ini, Quran memberikan pemecahan paling jitu dengan tidak mencantunkan kriteria kosher sebagai alasan halal dan haram. Dengan hanya menyebut babi sebagai binatang yang haram, maka unta pun terbebas dari beban kriteria logis Bible yang tidak memadai. Disaat bersamaan, penegasan bahwa babi haram menautkan Islam dengan ajaran Yahudi dan kelokalan mereka sebagai warga Timur Tengah yang sejak lama memiliki peniliaian negatif terhadap babi.

Kesimpulan

Menggunakan argumen medis untuk menjelaskan keharaman babi saya pikir sangatlah tidak tepat. Karena selain sejumlah alasan yang telah saya kemukakan di awal tulisan ini, babi sendiri tergolong binatang yang bersih di habitat aslinya.

Penjelasan paling masuk akal yang membuat babi haram adalah penjelasan sosio-kulutral masyarakat Timur Tengah pra-Islam. Hal ini meliputi fungsi babi sebagai binatang pengolah limbah rumah tangga, yang membuatnya menjadi makanan kelas tiga dibawah sapi dan kambing/domba. Hal ini diperparah dengan pandangan negatif terhadap babi sebagai binatang yang berhubungan black magic dan kekacauan (tuhan Seth).

Khusus mengenai Islam, larangan mengkonsumsi daging babi tanpa syarat apapun sekaligus menjadi pembeda dari konsep Judaisme tentang Kosher. Hal ini terkait dengan keberadaan unta yang merupakan jantung bagi revolusi Islam. Tanpa unta Islam tidak akan berkembang pesat hingga saat ini. Adapun babi ya memang sudah lama menyandang status sebagai daging kelas tiga jauh sebelum Islam datang. Mengharamkan babi di Arabia jelas lebih mudah, bahkan tanpa alasan spesifik apapun juga.

Referensi

Marvin Harris, The Abominable Pig

Picky Pigs Take Washing Certain Foods Seriously

Pig and Their Prohibition

The Forbidden Flesh