Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membaca Kembali Pembunuhan Khalifah Utsman ibn Affan

Pada saat dewan syuro melakukan pemilihan, Utsman ibn Affan sebenarnya kandidat yang bisa memenuhi ekspektasi semua anggota. Pembawaannya yang lembut dan low profile misalnya berbanding terbalik dengan Ali ibn Abu Thalib yang progressif dan percaya diri. Sikap konservatifnya inilah yang mengantarkan Utsman menjadi khalifah ketiga menggantikan Umar ibn Khattab. Lalu mengapa di akhir hayatnya Utsman menjadi begitu dibenci oleh banyak pihak?

Nepotisme dan Khumus

Sudah bukan rahasia lagi bila Utsman ibn Affan memfavoritkan sanak saudaranya pada saat menjabat sebagai khalifah. Lima tahun setelah menjadi Amirul Mu'minin seluruh gubernur adalah anggota klan Umayyah. Muawiyah ibn Abi Sufyan yang telah menjadi gubernur Syria sejak era Umar ibn Khattab, adalah sepupu Utsman. Said ibn al-'As yang merupakan gubernur Madinah juga merupakan anggota klan Umayyah. Demikian pula Abdullah ibn Amir yang menjadi gubernur Basrah, Walid ibn ‘Uqbah Gubernur Kufah dan Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Syarh yang menjadi gubernur Mesir.

Bagan: Silsilah Utsman dan para gubernur

Pada awalnya kebijakan Utsman ini mampu ditolerir oleh umat karena semua gubernur yang ia pilih kecuali Walid, adalah orang-orang yang kompeten. Muawiyah sendiri berjasa menaklukkan Syria dan mengorganisir wilayahnya dengan sangat baik. Ibn Abi Syarh adalah tangan kanan Amr ibn 'As penakluk Mesir. Sedangkan Said ibn al-'As meski menjadi gubernur di usia yang masih sangat muda namun berhasil memenangkan hati pasukan Arab di Basrah.

Permasalahan baru muncul ketika nepotisme ini juga diikuti oleh usaha memperkaya diri oleh para sanak saudara Utsman. Berbeda dengan Abu Bakr dan Umar yang berhati-hati dalam pemanfaatan khumus (alokasi 1/5 harta rampasan perang untuk Baitul Mal) yakni hanya memanfaatkan 1/5 dari 1/5 bagian yang diterima, Utsman merasa kedudukannya sebagai Amirul Mu'minin membuatnya berhak menggunakan seluruh khumus untuk membayar gaji dan menggunakan sisanya untuk urusan yang menurutnya merupakan "kepentingan publik".

Qura dan Sawad

Poin selanjutnya yang membuat kota-kota garnisun bergejolak adalah kebijakan Utsman terkait pengelolaan tanah pertanian subur sawad. Di masa Umar, tanah subur ini dikelola oleh sekelompok tentara awal yang menamakan dirinya Ahlul Qura. Ada perbedaan pendapat mengenai etimologi kata Qura. Sebagian besar menanggap Qura ini sebagai kelompok pembaca al-Quran, qurra, sedang lainnya macam M. Shaban berpendapat bahwa kata Qura diambil dari akar kata q r y yang berarti desa. Menurut Shaban, penisbatan Qura dengan qurra tak lebih dari strategi kelompok tersebut untuk meningkatkan prestise mereka dikalangan tentara Arab.

Qura adalah kelompok muslim yang berasal dari suku-suku minor yang ikut serta dalam Perang Ridda. Karena senioritas inilah mereka menikmati gaji tertinggi sejak era Umar dibanding tentara lain yang baru bergabung di kemudian hari. Selama bertahun-tahun pengelolaan sawad dipercayakan kepada para Qura, tanpa ada pertanggungjawaban keuangan yang jelas, termasuk mengirim khumus ke Madinah.

Utsman yang menyadari adanya kejanggalan ini kemudian berusaha menyingkirkan pengaruh Qura dari sawad melalui sejumlah kebijakan: 1. penghapusan kelas tentara berdasarkan ridda dan post-ridda yang secara tidak langsung menurunkan level gaji Qura. 2. Menunjuk gubernur Kufah Said ibn al-'Ash sebagai pengelola resmi tanah sawad. 3. Privatisasi sawad dengan memperkenankan sejumlah kepala suku untuk menukar tanah milik mereka di Arabia dengan tanah subur di sawad.

Peta: tanah subur sawad di Mesopotamia

Kebijakan Utsman ini langsung menuai protes dari 3000 orang Qura yang berbuntut pada pencegahan gubernur Kufah untuk masuk kedalam kota garnisun tersebut. Terusir dari kedudukannya, Said lalu melapor ke Utsman yang kemudian segera memanggil para ketua Qura ke Madinah. Disana Utsman menegaskan kekuasaannya dan mereka pun setuju untuk tidak berbuat onar lagi.

Tanpa disadari Utsman, para Qura itu lalu menyebar ke sejumlah kota utama guna memupuk resentment terhadap sang khalifah dan menjadi kelompok ekstrimis pertama dalam sejarah Islam.

Krisis di Mesir

Sebagaimana Kufah, krisis di Mesir juga terjadi akibat perbedaan kepentingan antara tentara pra-ridda dan post-ridda, "orang lama" vs "orang baru". Hal tersebut diperparah dengan membludaknya "orang baru" di kota garnisun Fustat yang besiap melakukan ekspansi ke Barat, Afrika Utara, namun terhenti di akhir masa pemerintahan Umar, membuat emosi para tentara ini mudah tersulut.

Selain itu perbedaan perspepsi antara gubernur Mesir Amru ibn 'Ash dengan Khalifah Utsman terkait status tanah Mesir berujung pada pemecatan Amru yang segera digantikan oleh sepupu khalifah Abdullah ibn Sa'ad ibn Abi Syarh. Amru yang tidak terima atas pemecatannya langsung bertolak ke Madinah dan terlibat percekcokan dengan Utsman. Pemakzulan Amru menuai protes dari para sahabat. Sejumlah anggota syura seperti Abdurrahman ibn Awf, Thalhah, dan Zubayr secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Utsman. Demikian pula Aisyah

Sementara itu situasi politik di Fustat semakin memanas. Ibn Abi Syarh secara sistematis melucuti priviledge tentara pra-ridda sedang disaat bersamaan melakukan penyelewengan sebagaimana yang terjadi pada privatisasi tanah sawad di Iraq.

Kondisi politik pun diperparah oleh sikap Muhammad ibn Abu Hudzaifah (anak angkat Utsman dari Abu Hudzaifah) yang tidak puas atas keputusan ayah angkatnya karena tidak mengangkat dirinya sebagai gubernur. Maka tatkala Ibn Abi Syarh hendak kembali ke Fustat setelah sebelumnya bertemu khalifah di Madinah, pasukan Ibn Abu Hudzaifah segera mencegat dan mengusirnya ke Palestina.

Namun tidak semua pasukan di Fustat mendukung ibn Abu Hudzaifah. Mayoritas dari mereka bahkan menginginkan Muhammad ibn Abu Bakr, saudara kandung Aisyah, sebagai gubernur baru Mesir. Untuk meredam konflik, Utsman mengutus Ammar ibn Yasir (setelah meminta maaf atas perbuatannya) untuk menyelidiki krisis keamanan yang terjadi di kota tersebut. Bukannya menjadi investigator yang baik, Ammar justru terlibat kekisruhan dengan memihak pada Muhammad ibn Abu Bakr dan memprovokasi pasukan di Fustat untuk berdemonstrasi ke Madinah menuntut Utsman bersikap adil terhadap keluarganya sendiri.

Resentment di Madinah

Di Madinah, oposisi terhadap Utsman terbagi kedalam tiga kelompok:

  1. Kelompok Muhajirun yang terdiri dari Abdurrahman ibn Awf yang menganggap Utsman telah melampaui batas sebagai khalifah dan memintanya untuk tidak menshalatkan dirinya saat meninggal; Abdullah ibn Mas'ud yang dilengserkan Utsman dari posisinya sebagai bendaraha Kufah juga memiliki permintaan serupa, ia pun diusir dari Masjid Nabawi oleh Utsman; Abu Dzar yang mengkritik kebijakan Utsman di Syria diasingkan ke al-Rabadza dan meninggal disana; Ammar ibn Yasir yang mengkritik kebijakan Utsman juga dipersekusi hingga mengalami hernia.
  2. Kelompok Anshor dari suku Khuza'a, Sa'd ibn. Bakr, Hudzayl, Juhayna and Muzayna, yang merasa dirugikan oleh peraturan dagang Utsman di kota mereka. Termasuk di dalam kelompok ini adalah kelompok suku Nabatean Madinah, Anbat Yatsrib, yang turut berpartisipasi dalam pengepungan rumah Utsman.
  3. Kelompok ketiga adalah Muhajirun yang tetap menjunjung hegemoni Quraisy tapi menentang dominasi Umayyah yang terdiri dari Thalhah ibn Ubaidallah berikut klan Bani Taym, termasuk pula Aisyah, dan Zubayr ibn 'Awwan dan klannya Bani Asad. Mereka awalnya diuntungkan oleh kebijakan Utsman yang memperbolehkan suku Quraisy untuk berbisnis dan memiliki tanah diluar Hijaz setelah sebelumnya dilarang oleh Umar. Namun seiring waktu mereka perlahan membenci Utsman karena lebih memilih kerabat dan klan Umayyah untuk menangani urusan negara.

Diluar pihak oposan, terdapat kelompok sahabat lainnya yang bersikap netral, mereka adalah: Abdullah ibn Umar, Saad ibn Abi Waqqash, al-Mugirah ibn Syu'bah, dan Ali ibn Abi Thalib beserta klan Bani Hasyim. Oposisi terhadap Utsman di Madinah ini dengan sendirinya menjelaskan mengapa warga Madinah tidak serta merta melindungi khalifah saat kediamannya dikepung oleh para demonstran.

Pengepungan Utsman

Pada Syawwal 35 H sekitar 400-700 orang dari Mesir berangkat menuju Madinah dengan alasan hendak melaksanakan umrah. dipimpin oleh empat orang tokoh: Abdurrahman ibn Udays al-Balawi, Sidan ibn Humran al-Muradi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuza'i (anggota Qura') dan Urwah ibn Syiyyam al-Kinani al-Laitsi.

Sesampainya di Dzu Khusyub perjalanan satu malam ke Madinah, para demonstran mengirim delegasi ke Ali, Thalhah, dan Ammar. Ali menyarankan mereka untuk berbicara langsung ke Utsman, sedang Thalhah dan Ammar memprovokasi untuk segera masuk ke Madinah.

Tanggal 12 Dzul Qa'dah, Pengepungan pertama dimulai. Para demonstran tampak duduk duduk di luar rumah khalifah. Tidak ada penjagaan ketat pada pengepungan kali ini, bahkan sejumlah tokoh penting bebas keluar masuk rumah Utsman tanpa halangan. Mereka meminta Utsman bertindak adil terhadap anggota klannya dan menuntut pencopotan Ibn Abi Syarh dari gubernur Mesir.

Tarik ulur sempat terjadi saat negosiasi dengan para demonstran. Utsman yang awalnya menyetujui tuntutan mereka kembali berbalik menyerang setelah sekretarisnya Marwan ibn Hakam menegaskan posisinya sebagai khalifah agar tidak tunduk kepada tuntutan pemberontak. Dikemudian hari, Utsman pun menyesali perkataannya itu dan menyatakan dirinya telah bertobat.

Para demonstran awalnya setuju untuk kembali ke Mesir setelah delagasi Muhajirun yang dipimpin oleh Ali dan delegasi Anshor pimpinan Muhammad ibn Maslamah menyatakan Utsman bersedia merubah kebijakannya dan menunjuk Muhammad ibn Abu Bakr sebagai gubernur baru Mesir.

Namun ditengah jalan, mereka mecegat seorang utusan Utsman yang membawa surat ke Gubernur Mesir untuk menghukum para demonstran setibanya di Fustat. Merasa dikhianati, para demonstran kembali lagi ke Madinah dan langsung mengepung rumah khalifah dan memotong jalur pasokan air ke rumah tersebut. Kali ini situasi menjadi sangat genting. Pada pengepungan kedua ini tuntutan para demonstran pun berubah. Mereka meminta Utsman untuk turun dari jabatannya sebagai khalifah dan menuntut diadakannya pemilihan khalifah baru.

Dengan disaksikan oleh Ali, Utsman menegaskan tidak pernah mengirim surat tersebut. Para sejarawan mencurigai Marwan sebagai biang keladi permasalahan yang menulis surat perintah untuk menghukum para demonstran menggunakan stempel khalifah.

Kamis 17 Dzul Hijjah situasi semakin memanas setelah seorang pengepung tewas dibunuh bekas budak Marwan. Selain itu beredar kabar Muawiyah mengirim pasukan ke Madinah untuk menumpas para demonstran. Ali pun mengirim putra-putranya untuk menjaga kediaman Utsman, namun dia sendiri diminta untuk tidak ikut menjaga karena curiga Marwan akan menyandera Ali saat terdesak.

Jumat 18 Dzul Hijjah, bentrokan pun pecah. Sejumlah demonstran yang frustasi berhasil masuk ke dalam rumah Utsman setelah melompat dari rumah tetangga. Disana mereka membunuh khalifah yang saat itu tengah membaca al-Quran.

Sumber:

Martin Hinds, The Murder of the Caliph 'Uthman, International Journal of Middle East Studies, Vol. 3, No. 4 (Oct., 1972)

M. Shaban, Islamic History AD 600 to 750: A New Interpretation, Cambridge University Press 1971

Wilfred Madelung, The Succession to Muhammad: A Study to Early Caliphate, Cambridge University Press 1998