Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menelusuri Jejak Abraha dan Tentara Gajah di Arabia

Saudi Arabia 8 November 1951. Jam baru menunjukkan pukul 10:00 ketika sebuah Land Rover tampak tertatih menyusuri jalan berdebu menuju kota Makkah. Di dalamnya terdapat sekelompok penjelajah dan peniliti dari Universitas Katolik Leuven, Belgia. Mereka datang atas undangan Raja Saudi Abdul Aziz ibn Saud untuk melakukan ekspedisi ilmiah menelusuri sejarah masa lalu bangsa tersebut jauh sebelum Islam datang.

Ekspedisi yang dikenal dengan Philby-Ryckmans-Lippens expedition ini merupakan eksplorasi pertama di Saudi, sekaligus sebuah usaha ambisius ke pedalaman Arabia. Lebih dari 5400 km mengarungi padang pasir melewati jalur perdagangan kuno antara Jeddah, Thaif, Turaba, Bisha, Abha, Kuhayf, hingga Riyadh. Mendokumentasikan lebih dari 12000 artefak sejarah, mayoritas dibuat pada masa pra-Islam dengan 9000 diantaranya ditulis dalam bahasa tsamudik yang hingga kini belum dapat dipahami sepenuhnya oleh para sarjana.

Namun yang menjadikan ekspedisi ini menarik adalah penemuan epigraf kuno berkode Ry 506 di Bir Murayghan, 395 km sebelah Tenggara Kota Thaif. Epigraf yang lebih dikenal sebagai Prasasti Murayghan ini terpahat di dinding batu dan ditulis dalam Bahasa Saba menggunakan aksara Arab Selatan Kuno. Berikut isi prasasti tersebut berdasarkan terjemahan Bahasa Inggris yang dilakukan oleh A.F.L Beeston, Professor Laudian Bahasa Arab di Oxford :

Dengan kuasa Sang Maha Pengasih, dan Mesiah-Nya, Raja Abraha menulis prasasti ini setelah berhasil menyerang Ma’add pada serangan musim semi di bulan dtbtn tatkala seluruh Banu Amir memberontak. Sekarang raja telah mengirim ‘BGBR bersama suku Kindi dan Ali dan BSR ibn HSN serta suku Sa’di, dan dua komandan tentara ini telah berperang dan bertarung, (yakni) pasukan Kindi melawan Banu Amir dan Pasukan Muradi dan Sa’di melawan … di lembah yang terletak di jalur TRBN, dan mereka membantai serta menawan (musuh) dan mendapat harta rampasan perang yang memuaskan. Sementara itu raja juga berperang di Haliban dan berhasil mengalahkan dan menyandera pasukan Ma’add. Setelah peristiwa ini Amir ibn al-Mundzir bertemu dengan Abraha dan setuju untuk memberikan tawanan dari al-Mundzir ke Abraha, karena al-Mundzir telah mengangkatnya sebagai gubernur atas Ma’add. Maka Abraha kembali dari Haliban dengan kuasa Sang Maha Pengasih.

Penyebutan nama Abraha dan keterlibatannya dalam ekspedisi militer ke Ma’add dan Haliban sebagiamana tertulis di prasasti tersebut, membuat sejumlah sarjana berspekulasi bahwa mereka telah menemukan bukti otentik penyerangan Ka’bah oleh Tentara Gajah sebagaimana termaktub dalam Quran Surat al-Fil. Pandangan ini pertama kali dikemukakan oleh anggota ekspedisi J. Ryckmans tak lama setelah berhasil menterjemahkan prasasti tadi kedalam Bahasa Prancis, yang segera diamini oleh filolog Jerman Franz Altheim dan Ruth Stiehl yang turut menerjemahkan prasasti tersebut kedalam bahasa Jerman.

Di sisi lain, professor Kajian Saba di Institute Oriental Studies Russia, A.G. Lundin, memiliki perspektif berbeda terkait isu ini. Menurutnya, prasasti Murayghan tidak berkorelasi dengan Ekspedisi Gajah ke Makkah karena peristiwa tersebut baru terjadi pada tahun 570, sedangkan Prasasti Murayghan ditulis pada 547 M. Pendapat Lundin ini cukup beralasan, karena dengan memundurkan waktu Pasukan Gajah sebanyak 23 tahun maka persepsi kita tentang riwayat hidup Nabi Muhammad turut terdistorsi.
Adalah M. J. Kister seorang Arabis dari Universitas Hebrew Jerussalem yang mencoba memecahkan kebuntuan logis ini. Dalam artikelnya berjudul “A Campaign of Huluban: A New Light on the Expedition of Abraha”, Kister mengutip sebuah riwayat dari al-Zuhri yang dicatat oleh al-Zubayr ibn Bakkar dalam Nashab Quraisy tentang bagaimana masyarakat Quraisy pada masa lalu menghitung tahun. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa jarak antara Tahun Gajah dan Perang Fijar adalah 40 tahun. Dari Fijar ke wafatnya Hisyam ibn al-Mugirah 6 tahun, dan antara wafatnya Hisyam ke pembangunan Ka’bah 9 tahun. Dan dari pembangunan Ka’bah ke hijrah Nabi terhitung 15 tahun. Berdasarkan perhitungan ini maka Tahun Gajah jatuh pada tahun 552 M, sesuai dengan interpretasi Beeston.

Tahun kelahiran Nabi sendiri menurut Kister tidak benar-benar mutlak pada Tahun Gajah. Ada banyak riwayat yang menyimpulkan Nabi lahir jauh setelah peristiwa itu terjadi. Contohnya riwayat dari Ibn al-Kalbi yang menyatakan Nabi lahir 23 tahun setelah Tahun Gajah. Pendapat Kister ini sangat populer di kalangan orientalis, macam Lawrence Conrad yang menganggap angka 40 tahun yang sering dianggap sebagai usia Nabi saat pertama kali menerima wahyu, bukanlah angka sebenarnya melainkan hanyalah propos, atau cara menyampaikan sebuah kisah. Usia Nabi sebenarnya tidak dapat diketahui karena tidak ada catatan pasti mengenai hal tersebut.


Tentu tidak semua orang sependapat dengan Kister. Pada tahun 1987 dengan berbekal copy buku catatan G Ryckmans, Abdel Moneim A. H. Sayed, seorang Egyptolog dari Universitas Alexandria Mesir, menelusuri kembali jalur ekspedisi Philby-Ryckmans-Lippens untuk membaca sendiri prasasti Murayghan. Hasil penyelidikan Sayed ini kemudian dipublikasikan dalam sebuah artikel berujudul “Emendations to the Bir Murayghan Inscription Ry 506 and A New Minor Inscription from There”. Menurut Sayed, sumber kontroversi ini disebabkan kekurangan dalam terjemahan Beeston. Ia kemudian merilis terjemahan baru sebagai berikut:

Dengan kuasa Sang Maha Pengasih, dan Mesiah-Nya, Raja Abraha Zybmn, raja dari Saba dan Dzu Raydan dan Hadramaut dan Yamnat dan orang-orang Arab yang tinggal di dataran tinggi dan pantai, menulis prasasti ini setelah berhasil menyerang Ma’add pada serangan musim semi di bulan dtbtn (April) tatkala seluruh Banu Amir memberontak. Dan Raja telah menunjuk ‘BGBR bersama Kinda dan Ala, dan (menunjuk) Bishr ibn Hisn bersama Sa’d (al-Asyira) dan Murad, dan mereka (kedua komandan ini) telah hadir dihadapan pasukan utama. Kinda dan Ala melawan Bani amir di lembah Dzu Markh, dan Murad dan Sa’d di sebuah lembah yang terletak di jalur TRBN, dan mereka membantai serta menawan (musuh) dan mendapat harta rampasan perang yang santa banyak. Sementara itu Raja juga berperang di Haliban dan mengejar Ma’add laksana bayangan memaksa mereka menyerahkan sandera. Setelah peristiwa ini Amir ibn al-Mundzir bertemu dengan Abraha dan setuju untuk memberikan tawanan dari al-Mundzir ke Abraha, karena al-Mundzir telah mengangkatnya sebagai gubernur atas Ma’add. Maka Abraha kembali dari Haliban dengan kuasa Sang Maha Pengasih di bulan d-LN (September) tahun 662.
Menurut Sayed inskripsi Murayghan menjelaskan bagaimana Abraha menaklukkan Bani Amir dengan memanfaatkan perseteruan lama antara Adnan dan Qahtan, dua kelompok suku paling tua di Arabia. Penyerangan itu dilakukan di dua lokasi yang berbeda oleh dua kontingen pasukan. Pasukan pendukung yang dipimpin oleh dua komandan menyerang Najd dan Thaif, sedang pasukan utama yang dipimpin oleh Abrahah menyerang Ma’add. Ekspedisi ini berakhir dengan kemenangan di tangan pasukan Abraha.

Berdasarkan geografi dan suku-suku yang terlibat dalam ekspedisi ini, lanjut Sayed, tidak ada indikasi penyerangan ditujukan ke Makkah. Selain itu kota Makkah sendiri tidak disebut didalam prasasti, kota terdekat dengan Makkah yang disebut yakni TRBN atau Turabah sendiri berjarak 300 km dari Makkah, sehingga sangat sulit untuk menjadikan prasasti ini bukti penyerangan Abraha ke Makkah.
Berkenaan dengan riwayat al-Zuhri dalam argumentasi Kister, Sayed mengkritiknya sebagai riwayat yang tidak populer di kalangan orang Arab dan sanadnya lemah. Kister sendiri dianggap cherry picking dengan hanya mengambil angka 23 terkait rentang antara tahun kelahiran Nabi dan Tahun Gajah, karena kebetulan cocok dengan data alternatif. Padahal dalam tradisi lain juga disebut angka yang berbeda macam 10, 15, 30, 40 tahun setelah Tahun Gajah. Atas dasar inilah Sayed menyimpulkan bahwa peristiwa yang dirujuk dalam prasasti Murayghan terjadi jauh sebelum Tahun Gajah dan tidak memiliki korelasi apapun dengan penyerangan Abraha ke Makkah.

Selain prasasti Murayghan Abraha juga meninggalkan empat prasasti lain semasa memerintah sebagai Raja Muda Aksum di Arabia Selatan. Prasasti paling detail mengenai perayaan dalam menumpas pemberontakan suku Kindah dan perbaikan Dam Marib, ditemukan di reruntuhan pintu air utara bendungan kuno tersebut. Prasasti ini bertanggal 547 M.

Tidak jauh dari sana juga terdapat prasasti yang menceritakan konferensi diplomatik antara minister raja Aksum, minister Kaisar Romawi, duta besar Raja Persia, serta dua pangeran Arab al-Harits dan al-Mundzir. Pada fragmen berbeda juga ditemukan prasasti mengenai pemotongan batu dan material berharga lainnya yang kemungkinan besar digunakan untuk pembangunan Gereja al-Qalis, Ekklesia, sebagaimana dikenal dalam tradisi Islam. Prasasti ini ditulis pada 560 M dan merupakan prasasti paling akhir yang berbicara tentang Abraha.

***

Selepas 560 M tidak ada prasassti maupun artefak mengenai Abraha. Sementara itu bukti penyerangan Tentara Gajah terhadap Makkah masih belum juga ditemukan. Pengetahuan kita tentang peristiwa ini bersandar sepenuhnya pada catatan tradisional semata. Hingga pada tahun 2014 saat sekelompok peneliti dari Prancis dan Arab Saudi yang tergabung dalam The Franco-Saudi Mission of Najrân melakukan penelitian di wilayah padang pasir Ima dan Jabal Kawkab, 100 km Timur Laut Najran. Situs arkeologi ini sangat kaya dan menyimpan ratusan ribu grafiti batu, petroglyph dan kuburan protohistorik. Disana mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan, tiga gambar tentang gajah.



Menurut Christian J. Robin periset di Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) dalam “Inscriptions antiques récemment découvertes à Najrān (Arabie saoudite méridionale): nouveaux jalons pour l’histoire de l’oasis et celle de l’écriture et de la langue arabes” tiga grafiti gajah ini pertama kali ditemukan oleh Mounir Arbach dan Alessia Prioletta di dua batu besar di Jabal Idzbah, sepuluh kilometer Timur Laut Bir Hima. Awalnya tim tidak bisa memastikan usia sebenarnya dari grafiti tersebut. Namun mengingat gajah telah menghilang dari semenanjung Arabia dua ratus ribu tahun lalu, mereka curiga gambar tentang gajah ini berasal dari abad ke-6 Masehi. Kecurigaan mereka terbukti empat tahun kemudian setelah menemukan sebaris pendek prasasti bertuliskan “Abraha Zabyman, raja” beberapa ratus meter dari penemuan grafiti gajah. Penemuan prasasti baru ini dipresentasikan oleh Robin dalam “Communication de Ch. Robin présentée en 2018 à Toulouse lors des 22ème Rencontres sabéennes”.

Berdasarkan data yang ada, kemungkinan besar ekspedisi Abraha ke Makkah terjadi pada tahun 565 M. Ekspedisi ini gagal total menyusul merebaknya wabah Justinian ditengah pasukan Abraha. Wabah Justinian sendiri adalah penyakit yang sangat menular diakibatkan oleh bakteri Yersina Pestis. Wabah ini melanda seluruh Timur Tengah antara 541 hingga 767 M.