Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Arkeologi Merubah Pandangan Masyarakat Barat Tentang Banjir Nabi Nuh

Gambar: Gunung Ararat

Hingga abad 19, mayoritas masyarakat Barat percaya bahwa peristiwa banjir besar Nuh benar-benar terjadi. Untuk membuktikannya banyak diantara mereka yang melakukan ekspedisi pencarian sisa-sisa bahtera Nuh berdasarkan petunjuk baik dari Bible maupun Quran.

Referensi awal terkait pencarian bahtera Nuh ini berasal dari literatur Kristen yang ditulis oleh sejarawan Eusebius (275–339) dalam Chronicle dan Philostorgius (368–439) dalam Epitome of the Ecclesiastical History of Philostorgius, yang dikompilasi oleh Photius, patriark Konstantinopel. Pada abad kelima Bishop Nisibis, yakni Jacob Nisibis bersama tim yang ia pimpin dikabarkan mendaki puncak gunung Ararat untuk menemukan sisa-sisa bahtera tersebut.

Catatan lengkap pertama mengenai ekspedisi pencarian bahtera Nuh berasal dari naturalis Jerman Freidreich Parrot yang mendaki Ararat pada 1829. Setengah abad kemudian akademisi Inggris James Bryce mendaki gunung yang sama dan membawa pulang sepotong kayu yang dianggap sebagai bukti akan sisa-sisa bahtera Nuh. Sejak saat itu beragam ekspedisi dilakukan guna mencari keberadaan kapal Nabi Nuh.

Perubahan besar terjadi pada awal 1850 ketika seorang arkeolog Inggris Austen Henry Layard tanpa sengaja menemukan Perpustakaan Ashurbanipal saat tengah melakukan eskavasi di situs arkeologis Kouyunjik dekat Kota Mosul, Irak. Ashurbanipal sendiri adalah raja keempat Dinasti Sargon yang memerintah kerajaan Neo-Assyrian antara 669–631 SM. Di perpustakaan ini Layard menemukan 15 ribu fragmen tablet kuneiforma berbahasa Assyria. Fragmen-fragmen tersebut kemudian dibawa ke British Museum untuk diteliti.

Dua puluh dua tahun kemudian, seorang pegawai British Museum yang juga ahli Assyriologi, George Smith mengumumkan penemuan mengejutkan mengenai kisah banjir besar yang tercatat di potongan tablet dari perpustakaan Ashurbanipal. Publik Inggris pun heboh, banyak yang mengaggap penemuan ini sebagai bukti valid bahwa banjir Nuh benar-benar terjadi.

Masalahnya, Smith tidak menemukan nama Nuh dalam fragmen tersebut dan ia kehilangan potongan besar tablet sehingga tidak mendapatkan gambaran lengkap kisah tersebut. Mengetahui hal ini, koran London Daily Telegraph menawarkan uang sebesar seribu pounds kepada Smith untuk menemukan potongan tablet yang hilang.

Smith pun menyanggupi tawaran Daily Telegraph, ia kemudian pergi ke Niniveh, Irak, dan memulai pencariannya di gundukan tanah bekas eskavasi. Dalam hitungan hari Smith menemukan 300 fragmen tablet yang hilang, dan setelah merangkai dan menterjemahkannya ia pun menerbitkan hasil penemuannya pada 1880 dengan judul The Chaldaean Account of Genesis.

Apa yang ditemukan oleh George Smith ini adalah sepenggal kisah dalam Epik Gilgamesh. Dalam kisah tersebut seorang tokoh bernama Utnaphistim diperintahkan oleh Tuhan Enki untuk membuat sebuah bahtera besar yang diberi nama “penjaga kehidupan” sebagai persiapan akan datangnya sebuah banjir besar yang akan menghapus seluruh kehidupan di muka bumi. Berikut ringkasan kisah tersebut dari buku Myth from Mesopotamia Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others karya Stephanie Dalley.

Tembok, tembok!
Dewa Agung bergerak untuk menimbulkan Air Bah
Bangunlah perahu!
Hancurkan rumah… buang harta benda dan pertahankan makhluk hidup!
Naikkan benih seluruh makhluk hidup ke atas perahu
Buatlah atap di atasnya seperti Apsu.
Saya menjawab kota, penduduk, dan Sesepuh
Saya tidak bisa tinggal di kota Anda
unggas yang berlimpah, banyak sekali ikan
Tukang kayu membawa kapaknya, tukang buluh membawa batunya, anak yang membawa bitumen, yang lemah membawa apapun yang dibutuhkan.
satuan bitumen (untuk menutupinya)
Saya meminta semua kerabat saya naik ke perahu
semua binatang dan binatang di padang
Saya pergi ke perahu dan menutup pintu masuknya.
Erragal menarik tiang tambat
Dia menghancurkan tanah seperti banteng yang mengamuk
memecahnya menjadi beberapa bagian seperti periuk
Dan banjir datang, membanjiri orang-orang seperti serangan
Tidak ada yang bisa melihat sesamanya, mereka tidak bisa mengenali satu sama lain di hujan lebat
Enam hari tujuh malam datang angin dan banjir
semua manusia telah berubah menjadi tanah liat
Saya membuka lubang angin
Di Gunung Nimuš kapal itu bersemayam dengan baik
Ketika hari ketujuh tiba
Saya mengirimkan seekor burung merpati dan melepaskannya. Burung merpati itu pergi, tapi kembali padaku
Aku mengirimkan seekor burung gagak
Saya berkorban … Saya membakar dupa
Para dewa mencium harum
semoga saya memperhatikan hari-hari ini, dan tidak pernah melupakannya
Dia memberkati kita
biarlah Utnaphistim dan istrinya menjadi seperti kita, para dewa.

Epik Gilgamesh dikompilasi oleh seseorang bernama Sîn-lēqi-unninni antara 1300–1000 SM menggunakan Bahasa Akkad. Yang menarik, kisah tentang banjir kuno ini bukan sumber pertama dan satu-satunya. Menyusul eskavasi arkeologis besar-besaran di Mesopotamia, sejumlah tablet baru berisi kisah serupa pun bermunculan. Dua diantara kisah-kisah ini bahkan lebih tua dari Epik Gilgamesh yakni Kisah Ziusadra:

Naik ke tembok di sebelah kiriku dan dengarkanlah!
Keputusan untuk memusnahkan umat manusia telah dibuat.
Benih dari umat manusia
Selama tujuh hari dan tujuh malam setelah banjir melanda seluruh negeri
Ziusadra lalu melubangi kapal besar
Sang raja menyembelih sapi dan banyak sekali domba

Kemudian Kisah Atrahasis:

Tembok, dengarkan aku
Bangunlah sebuah kapal
Kaburlah dari rumah, tinggalkan harta benda dan selamatkan diri.
Bangunlah atap diatasnya sebagaimana Apsu
Akan datang tujuh hari banjir
Katakan ke para tetua
Aku tidak bisa tinggal di kotamu
Rejeki besar berupa burung dan berderet-deret ikan
Tukang kayu membawa kapanya, tukang buluh membawa batunya, orang kaya membawa bitumen, dan orang miskin membawa benda-benda yang dibutuhkan
Keluarganya ia naikkan keatas
makhluk padang rumput juga ia bawa ke atas kapal
Dia membawa bitumen untuk menutup pintunya
Dia memotong tali tambat dan melepaskan kapalnya
Banjir di bawah seperti banteng
memecahkan keributannya seperti periuk
Air bah datang, kekuatannya datang ke atas orang-orang seperti pertempuran
satu orang tidak melihat yang lain, mereka tidak dapat mengenali satu sama lain dalam bencana tersebut.

Kisah Ziusadra sendiri ditulis menggunakan bahasa Sumeria sekitar abad ke-17 SM di kota Nipur. Sedangkan kisahAtrahasis ditulis pada masa pemerintahan cucu buyut Hammurabi, Ammi-Saduqa, seorang raja dinasti pertama Babylonia yang memerintah kerajaan tersebut antara 1646–1626 SM. Ketiga kisah kuno ini berbicara mengenai kisah serupa dengan detil yang mirip dengan kisah Nuh di Bible.

Kemiripan narasi ketiga kisah ini bisa kita temukan dengan lebih jelas pada poin-poin berikut ini:

  1. Bentuk bahtera. Pada kisah Atrahasis kapal berbentuk lingkaran menyerupai kapal tradisional masyarakat Mesopotamia, dengan satu atau dua dek; Pada kisah Utnaphistim kapal berbentuk kubus dengan enam dek dan tujuh kompartemen dan setiap kompartemen terbagi menjadi 9 sub; Pada kisah Nuh kapal berbentuk persegi panjang dengan tiga dek.
  2. Dimensi bahtera. Pada kisah Atrahasis dimensi kapal 14.400 cubits2, pada kisah Utnaphistim 14.400 cubits2, sedang pada Bible 15,000 cubits.
  3. Nama Ziusadra dalam bahasa Summeria berarti “dia yang berumur panjang”, demikian pula Atrahasis yang dalam versi Babylonia memiliki makna yang sama. Pada Bible Nuh berumur 950 tahun.

Penemuan perpustakaan Ashurbaniphal pada akhirnya merevolusi pemikiran banyak orang tentang banjir besar Nuh. Mayoritas sarjana menanggap banjir tersebut adalah adaptasi dari mitologi kuno Mesopotamia. Mitologi ini diduga terserap kedalam Bible pada saat pengasingan Assyrian sekitar 722 SM atau pengasingan Babilonia yang dimulai pada 597 SM bertepatan dengan waktu penulisan Genesis.

Meski banyak yang menganggap kisah banjir Nuh hanyalah mitologi, namun usaha pencarian bahtera Nuh masih terus berlangsung di era modern. Sponsor utama pencarian ini terutama dari kalangan Kristen fundamentalis, para kreasionis, serta mereka yang memiliki pemahaman young age creationism