Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Adam dan Mitologi Mesopotamia

 Sebagai man of science saya lebih percaya pada Teori Evolusi dalam menjelaskan asal-usul manusia. Kisah Adam dengan demikian hanyalah bagian dari mitologi yang digunakan oleh tiga agama Abrahamik untuk menjelaskan asal-usul manusia. Namun sebagai man of culture, saya juga bertanya, kira-kira berasal dari mitologi apa kisah Adam ini? Adakah mitologi lainnya yang menjadi pendahulu dari kisah Adam? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita membedah satu persatu elemen kisah tersebut, dimulai dari identifikasi lokasi Taman, Eden atau jannah tempat Adam tinggal.

Taman, Eden, Jannah

Dikarenakan Quran tidak memaparkan lokasi dari jannah, maka mau tidak mau kita akan merujuk pada Genesis 2:8–17 karena menyajikan informasi paling lengkap mengenai lokasi tempat tinggal Adam.

Then the Lord God planted a garden in Eden in the east, and there he placed the man he had made.

The Lord God made all sorts of trees grow up from the ground—trees that were beautiful and that produced delicious fruit. In the middle of the garden he placed the tree of life and the tree of the knowledge of good and evil.

A river flowed from the land of Eden, watering the garden and then dividing into four branches.

The first branch, called the Pishon, flowed around the entire land of Havilah, where gold is found.

The gold of that land is exceptionally pure; aromatic resin and onyx stone are also found there.

The second branch, called the Gihon, flowed around the entire land of Cush.

The third branch, called the Tigris, flowed east of the land of Asshur. The fourth branch is called the Euphrates.

The Lord God placed the man in the Garden of Eden to tend and watch over it.

But the Lord God warned him, “You may freely eat the fruit of every tree in the garden—

except the tree of the knowledge of good and evil. If you eat its fruit, you are sure to die.”

Dari ayat diatas kita bisa menyimpulkan beberapa poin.

  1. Taman tempat tinggal Adam terletak di sebelah Timur.
  2. Terdapat empat sungai yang mengalir kesana, yakni sungai Phison, Gihon, Tigris dan Eufrat.
  3. Di taman tersebut Adam tidak kekurangan makanan.
  4. Terdapat pohon yang dikultuskan dan tidak boleh didekati atau dimakan.

Dari sini setidaknya kita bisa mendeduksi bahwa lokasi "taman" tempat Adam tinggal terletak di wilayah Mesopotamia. Dengan alasan, wilayah ini secara geografis memang terletak di sebelah Timur Yerusalem. Dua dari empat sungai yang mengalir ke taman sendiri bisa kita ketahui dengan jelas sebagai sungai Eufrat dan Tigris yang memang mengalir di wilayah tersebut sejak lama. Demikian pula kondisi wilayah Mesopotamia yang dikenal dengan tanahnya yang subur sangat cocok dengan gambaran tentang Taman Adam dimana ia tidak kekurangan makanan sedikitpun.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana kita mengidentifikasi sungai Phison dan Gihon? Jawaban dari pertanyaan ini datang dari Juris Zarins, seorang arkeolog dari Missouri State University. Menurut Zarins, sungai Phison pada dasarnya adalah sebuah sungai purba yang mengalir dari arah kota Madinah saat ini ke wilayah Teluk sekitar Kuwait. Pada masa kini DAS sungai purba tersebut dikenal dengan Wadi Rimah dan Wadi Batin. Adapun sungai Gihon tidak lain dan tidak bukan adalah Sungai Karun yang mengalir dari wilayah Persia.

Pada peta di bawah ini kita bisa melihat dengan jelas lokasi pertemuan keempat sungai tersebut berikut lokasi kota-kota utama Mesopotamia.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ada catatan historis tentang wilayah subur yang terletak di area tersebut dimana setting kisah Adam mungkin terjadi? Untungnya ada, dan anda tentu bisa menebak asal dari catatan historis tersebut. Ya benar, mitologi Mesopotamia, atau lebih tepatnya Kisah Enki dan Ninhursag.

Gambar: Tablet Kisah Enki dan Ninhursag koleksi Penn Museum

Kisah Enki dan Ninhursag ini dapat dibaca dalam tablet kunaifroma diatas yang berlatar belakang sebuah kota makmur bernama Dilmun. Dilmun ini digambarkan sebagai kota yang perawan dimana tidak ada orang sakit maupun orang tua. Tidak pula terdapat binatang buas, pembunuhan, juga tidak ada orang yang perlu bekerja mencari ikan di sungai. Kemakmuran Dilmun ini disebabkan oleh tanahnya yang subur sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup seluruh penghuninya.

Dilmun is praised as a sacred, pure, bright city. It is a place from which what can be identified as natural evils—predation by animals, disease, old age, dirt—are explicitly absent. No young girl bathes, no man sails the river, no herald makes his rounds; there is no song of joy, there is no wailing.

Ninsikila (= Ninhursag) complains to Enki that Dilmun lacks water; its canals are empty.

Enki makes water well up from the subterranean reservoirs over which he has control. The wells of Dilmun fill; their saltwater becomes sweet. The furrowed fields produce grain.

Either as an immediate result, or else in the optative form of wish or exhortation, Dilmun is described as an urban emporium into which flow riches from all over the world— precious wood and stones, minerals, wool, spices, spun cloth. Its dwellings are praised, along with its grain and dates; its triple harvests are celebrated.

Menurut Zarins sebagaimana ditulis oleh Dora Jane Hamblin dalam "Has the Garden of Eden been located at last?" Dilmun kira-kira terletak wilayah Teluk yang merupakan tempat pertemuan empat sungai: Eufrat, Tigris, Karun dan sungai purba dari jalur Wadi Rimah dan Wadi Batin. Akibat perubahan iklim selama ribuan tahun, kemungkinan besar kota tersebut telah terkubur dibawah permukaan laut.

Meski belum ada bukti arkeologis berupa penemuan kota Dilmun, namun identifikasi Dilmun dengan Taman di Bible cukup beralasan. Selain kemiripan konsep tentang suatu tempat yang sangat makmur dan beradab, gambaran Dilmun dalam Enki dan Ninhursag juga melibatkan elemen lain yang juga ada dalam kisah Adam dan Eve, yakni pohon.

Kishkanu, Pohon Kehidupan

Satu episode menarik dalam kisah Enki dan Ninhursag adalah penyebutan pohon yang kemungkinan besar merupakan pohon kehidupan, Kishkanu. Pohon tersebut dijanjikan akan ditanam di kota Enlil, Tuhan lain yang menjadi musuh utama Enki, seandainya rubah suruhan Enlil bisa membawa Ninhursag ke tangan Tuhan tersebut.

From the marsh, Enki spies the plants and consults with Isimud about them. Isimud names each plant, cuts or pulls it from its roots, and gives it to Enki, who eats each in turn. In this way, Enki “knows the heart” and “determines the destiny” of each plant.

Ninhursag curses Enki, withdrawing her “life-giving eye” from him. Enki falls ill.

The fox approaches Enlil with an offer to bring Ninhursag back; in return, Enlil promises it "a tree "in his city and subsequent fame.

In a fragmentary passage, the fox adorns itself and approaches Ninhursag, apparently claiming that it has unsuccessfully approached the other gods—Enlil, Nanna, Uttu—in their temples.

Ninhursag goes to the temple (of Enlil?), where the gods strip her and Enki is put inside (or before?) her vulva.

Yang menarik, setelah Enlil berjanji memberi rubah pohon (baca: Kishkanu), Ninhursag pergi menemui Enki dan seluruh pakaiannya di lepas oleh para Tuhan. Disana Ninhursag mengobati Enki sekaligus memberinya keturunan.

Keberadaan pohon Kishkanu sendiri merupakan simbolisme penting dalam mitologi Mesopotamia. Relif dan gambar akan pohon ini banyak ditemukan di pelbagai seal dan tablet di Mesopotamia, termasuk pada relief di ruang tahta Ashurbanipal:

Gambar: Panel dinding Ashurbanipal dihadapan pohon suci koleksi The British Museum

Menurut Simo Parpola dalam "The Assyrian Tree of Life: Tracing the Origins of Jewish Monotheism and Greek Philosophy", pohon Kishkanu merupakan simbol dari kekuasaan Tuhan di dunia. Keberadaan pohon ini di istana kerajaan menunjukkan legitimasi kerajaan tersebut untuk memerintah atas nama Tuhan. Dalam Bible pohon terlarang itu dinamakan sebagai pohon keabadian atau kebijaksanaan. Bila kita melihat larangan mendekati pohon keabadian dalam kisah Adam lewat mitologi Mesopotamia maka kita bisa memahaminya sebagai sebuah larangan bagi manusia untuk menjadi Tuhan atau bertindak layaknya Tuhan. Larangan mendekati pohon tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah gambaran dari usaha manusia untuk menyalahgunakan kekuasaan Tuhan di bumi.

Adapa, Idim atau Adam?

Satu alasan utama kenapa para sarjana enggan mengidentifikasi Adam dan Eve dengan Enki dan Ninhursag adalah ketiadaan hubungan morfologis antara nama Enki dan Adam. Maka alih-alih mengidentifikasi Enki dengan Adam, beberapa sarjana mengajukan mitologi Sumeria lain yang mirip dengan kisah Adam, yakni Kisah Adapa dan Angin Selatan yang pecahan tabletnya di temukan di situs Tell al-Amarna, Mesir dan kemungkinan ditulis pada abad ketujuh SM.

Gambar: Tablet berisi kisah Adapa dan Angin Selatan koleksi Morgan Library and Museum

Adapa adalah seorang bijaksana yang tinggal Eriddu. Ia diciptakan oleh Tuhan Ea yang dalam mitologi Sumeria dikenal sebagai Enki. Adapa adalah hamba yang sangat berbakti kepada Enki. Ia mengabdi di kuil dan bertugas menyediakan makanan untuk persembahan kepada Tuhan. Suatu ketika Adapa pergi melaut atas perintah Enki, disana ia tanpa sengaja mengutuk Angin Selatan karena membuatnya susah menangkap ikan. Akibat kutukan itu sayap Angin Selatan menjadi patah dan menyebabkan daratan menjadi kering karena kehilangan kelembapan yang dibawa angin dari laut. Tuhan Tertinggi Anu kemudian memanggil Adapa guna mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Namun sebelum Adapa menghadap Anu, Ea menyuruhnya untuk melakukan 2 hal: menggunakan pakaian berkabung saat tiba di gerbang Anu agar mendapat simpati dari penjaga gerbang, dan agar tidak makan roti dan minuman yang disajikan kepadanya. Dengan mentaai perintah Ea, Adapa akhirnya selamat dan dapat bertemu dengan Anu. Anu yang terkesan dengan kebijaksanaan Adapa karena mampu melewati ujian memaafkan Adapa dan membebaskannya dari hukuman.

Menurut Niels-Erik Andreasen dalam "Adam and Adapa: Two Antrhopological Characters" Adapa dan Adam memiliki paralelitas sebagai berikut:

  1. Perubahan labial dari "d" ke 'm" pada kata Adapa dan Adam adalah fitur paling jelas dari kedua nama. Perubahan ini semakin jelas terlihat ketika kata Adam juga memiliki akhiran "-a" pada kata adama yang membuat kedua kata bisa saling dipertukarkan. Menurut E Ebeling kata adapa berasal dari kata a-da-ap yang berarti manusia. Adapun Adam bisa berarti tanah (adama), merah (edom) dan darah (dam).
  2. Baik Adam maupun Adapa sama-sama diuji dengan makanan. Yakni pohon atau buah terlarang dalam kasus Adam, dan makanan serta minuman Tuhan dalam kasus Adapa.
  3. Kedua tokoh sama-sama melakukan kesalahan dan keduanya sama-sama diampuni.

Paralelitas Adapa dan Adam pada dasarnya hanya sebatas permukaan saja. Di bagian isi kisah keduanya benar-benar berbeda, dimana kita kekurangan narasi tentang manusia pertama, Eve dan pohon terlarang. Demikian pula latar belakang kisah Adapa yang bukan tinggal "Taman", membuat banyak sarjana ragu bila kedua tokoh benar-benar paralel.

Bila Adapa bukanlah Adam, lalu siapa tokoh mitologi yang dapat diidentifikasi sebagai Adam? Sebenarnya ada hipotesis menarik dari Saad D. Abulhab dalam Lost in Translation, Presumption, and Interpretation Adam, Noah, and the Ancient Mesopotamian Mythology of the Creation and the Flood. Menurut Abulhab, Adam sebenarnya adalah personifikasi dari Enki dalam kisah Enki dan Ninhursag. Alasannya adalah kata "Enki" dalam kunaiforma bisa dibaca sebagai "Idim".

Tentu saja kata idim sangat dekat dengan kata Adam, tapi tidak semua sarjana sepakat dengan pembacaan tersebut. Oleh karenanya Abulhab mengemukakan argumentasi lain yang menunjukkan bahwa Adam itu sebenarnya salah satu Tuhan yang disembah oleh masyarakat Mesopotamia sebagaimana Enki. Bukti akan hipotesis ini bisa dilihat dari episode sujudnya malaikat kepada Adam sebagaimana tercantum dalam Quran

Sujud pada Adam

Episode sujudnya malaikat pada Adam sangat banyak ditemukan dalam Quran. Sayangnya referensi akan episode ini tidak tercatat sama sekali dalam Bible. Satu rangkaian ayat yang menceritakan peristiwa tersebut terdapat pada QS 7:10–13.

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.

Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.

(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.”

Bagi Abulhab, sujudnya malaikat pada Adam merupakan petunjuk bagi posisi tokoh ini di masa lalu yang kemungkinan besar merupakan Tuhan. Jika hal ini benar adanya, maka tokoh paling logis untuk identifikasi Eve adalah Ninhursag yang merupakan partner Enki dalam kisah tersebut.

Terlepas dari kebenaran hipotesis ini, Quran bukanlah satu-satunya kitab yang mencatat kisah sujudnya malaikat dan makhluk pada Adam. Dalam Cave of Treasure, sebuah kitab apokripa yang kemungkinan besar ditulis pada tahun 600 M, kisah penyembahan terhadap Adam juga hadir.

God formed Adam with his holy hand in his image according to his likeness.

When the angels beheld his glorious appearance they were agitated from the first sight "because they saw the appearance of his face flashing with glorious beauty like the fiery orb, the light of his eyes like the sun, and the figure of his body like shining crystal.

When he stretched himself and rose in the middle of the earth

he put his feet on that place where the cross of our savior would be erected, because Adam was created in Jerusalem.

At that place he wore the gown of kingship, and the crown of glory was put upon his head;

there he was made king, priest and prophet, and there God made him sit upon the throne of his glory.

There God also put all creatures under his dominion:

All the wild animals, cattle and birds gathered before Adam, and while they passed by he named them and they bowed their heads. "

All beings worshipped him and submitted themselves before him. “ Then the angels heard God’s voice speaking to him:

“Adam, behold, I made you king, priest and prophet, lord, chief and leader, so that everything made and created may be subservient unto you and belong to you.

To you I give dominion over every created thing.” “ When the angels heard this heavenly voice they all bent their knees and worshipped him.

‘When the chief of that lowest rank saw what greatness had been bestowed upon Adam he envied him from this day on. He did not want to worship him and spoke to his army:

“Let us not worship and glorify him together with the angels. It is meet that he worships me who am fire and spirit and not that I worship dust formed from dirt.”

As soon as the rebel conceived this and was disobedient as regards the wish of his soul and volition he separated himself from God.

He was cast down and fell, he and his whole rank, on Friday, the sixth day, and their fall from heaven lasted for three hours.

Dari dua sumber ini kita bisa mendeduksi hipotesis Abulhab diatas. Meski tentunya tidak ada bukti langsung yang dapat menghubungkan kisah Enki dan Ninurshag dengan kisah Adam.

Adam Sebagai Raja Babylonia

Jauh sebelum Abulhab, George A Barton (w. 1942) Profesor Bahasa Semit dan Sejarah Agama di Universitas Pennsylvania juga mengemukakan hipotesis berbeda tentang asal usul nama Adam. Menurut Barton Adam merupakan nama salah satu raja Babylonia yang hidup sebelum Banjir Besar. Identifikasi ini dilakukan menyusul penemuan fragmen Berosos berisi daftar raja-raja Babylonia di Nippur.

Bila ditransliterasi ke Bahasa Semit, maka kita akan menemukan paralelitas dengan sejumlah karakter dalam Bible sebagai berikut:

Meski hipotesis Barton ini sangat menarik, sayangnya saya tidak menemukan kelanjutan dari teori ini. Di Wikipedia sendiri nama-nama raja Babylonia sebelum era Banjir bahkan ditulis dengan nama yang sangat berbeda . Kemungkinan besar terjadi kesalahan baca yang kemudian dibenahi menjadi lebih baik oleh generasi sarjana masa kini.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan diatas tidak ada satu pun teori yang benar-benar meyakinkan mengenai paralelitas kisah Adam dengan mitologi Mesopotamia. Meskipun demikian, identifikasi Dilmun sebagai Taman, Eden ataupun jannah sangatlah memuaskan. Dengan demikian pemikiran bahwa jannah itu sebenarnya berada di bumi jauh lebih masuk akal ketimbang membayangkan posisinya yang berada di langit karena akan melibatkan banyak sekali spekulasi pseudo-science yang sangat tidak masuk akal dan mengada-ada.

Bahkan jikapun Dilmun tidak pernah ditemukan, setidaknya kita masih memiliki gambaran tentang marshland di Iraq yang mengobati kerinduan kita akan jannah yang tajri min tahtiha al-anhar.