Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Musa, Mitologi dan Sejarah

 Catatan sejarah mengenai Musa baik di Mesir maupun di Palestina hampir tidak ada. Saya menggunakan kata hampir, karena etimologi kata Musa sendiri sangat ambigu. Pertama, nama Musa jelas menunjukkan bahwa itu adalah nama Mesir sama seperti Ahmose, Tuthmose, atau Ramose. Namun bila kita tinjau satu persatu, tidak ada paralelitas figur Mesir ini dengan kisah Musa dan Bani Israel.

Selama hampir dua ratus tahun para sarjana telah menaruh perhatian besar akan kisah Musa dan Eksodus. Ratusan survei dilakukan di setiap jengkal tanah Palestina hingga Mesir, demikian pula berbagai macam eskavasi. Namun alih-alih menemukan bukti migrasi ratusan ribu orang dari Mesir atau kemunculan satu orang pemimpin bernama Musa mereka menemukan banyak sekali bukti-bukti yang saling saling bertentangan satu-sama lain.

Imigran bangsa Kanaan

Mesir sebenarnya menempati posisi penting dimata penduduk Palestina atau yang lebih dikenal sebagai bangsa Kanaan. Ia menjadi tempat pengungsian ketika terjadi kekeringan, dan kelaparan di daerah mereka. Wilayah Mesir yang subur dan dialiri sungai Nil berikut percabangannya sepanjang tahun, menjadikan wilayah tersebut selalu hijau bahkan di musim kemarau sekalipun.

Gambaran tentang migrasi orang-orang asing dari Asia ini bisa kita lihat di dinding kuburan kuno Beni Hassan di wilayah Mesir Tengah antara Asyut dan Memphis

Kisah migrasi penduduk Kanaan ke Mesir ini yang bisa kita sebut sebagai proto-Israel tergambar dengan jelas dalam kisah Yusuf dan Ya'qub berikut keluarga mereka dalam Bible dan Quran. Di Mesir kedatangan para imigran ini menandai era baru pemimpin asing yang dikenal dengan sebutan Hyksos, atau penguasa dari negeri asing.

Masa pemerintahan Hyksos atas Mesir merupakan era Dinasti Ke-15 yang berlangsung seabad dari tahun 1650–1550 SM. Menurut Manetho, Pendeta Mesir era Dinasti Ptolemik, dalam bukunya Aegyptiaca yang berisi kronologi raja-raja Mesir, Hyksos merupakan kelompok invader dari Timur yang menguasai Mesir dan mendirikan kota Avaris di sisi Timur Mesir sebagai ibukota kerajaan mereka. Menurut Manetho, sebagaimana dikutip oleh Josephus:

Orang-orang dari keturunan tercela yang berasal dari timur, yang kedatangannya tidak terduga, memiliki keberanian untuk menyerang negara, yang mereka kuasai dengan kekuatan utama tanpa kesulitan ataupun pertempuran. Setelah mengalahkan para kepala suku, mereka kemudian dengan kejam membakar kota-kota, menghancurkan kuil para dewa hingga rata dengan tanah, dan memperlakukan seluruh penduduk asli dengan sangat kejam, membantai beberapa, dan memperbudak para perempuan dan anak-anak

Pandangan negatif Manetho tentang Hyksos sebagai kaum penjajah ini dikritik oleh para sarjana modern yang menganggap migrasi bangsa Kanaan sebagai migrasi yang terjadi secara gradual sejak Dinasti ke-12 dan bukan sebuah invansi. Bangsa Mesir sendiri mengandalkan ketrampilan bangsa Hyksos atau Kanaan dalam pembuatan kapal dan mengarungi lautan.

Pengusiran Hyksos

Mulai 1539 SM terjadi konflik antara Dinasti ke-17 yang beribukota di Thebes dengan Hyksos di Avaris. Konflik tersebut berlanjut hingga awal Dinasti ke-18 yang berakhir dengan pengusiran Bangsa Hysksos dari Mesir. Manetho juga mencatat ratusan ribu bangsa Hyksos pergi meninggalkan Mesir saat pengusiran itu terjadi. Sedang menurut sumber Mesir abad 16 SM Ahmose I (1549–1524 SM) pendiri Dinasti ke-18 pergi menaklukkan kota Avaris dan mengejar sisa-sisa Hyksos hingga ke benteng utama mereka di Kanaan Utara.

Meski demikian bukti-bukti arkeologis menunjukkan tidak ada pengusiran masal bangsa Hyksos, dimana para imigran masih tetap bekerja sebagai pengerajin dan tinggal di wilayah Delta Mesir berabad-abad setelahnya. Namun berdasarkan penggalian yang dilakukan di situs Tell el-Daba menunjukkan hilangnya pengaruh Kanaan di pertengahan abad ke-16 SM.

Kebijakan agresif Mesir terhadap bangsa-bangsa tetangga terus barlanjut hingga Dinasti ke-19. Dalam prasasti Merneptah (1213–1203 SM), yang ditemukan di ibukota Mesir Thebes, tercatat sejumlah kemenangan Firaun Merneptah atas Libya dan diakhiri kisah tentang penaklukkan Kanaan. Prasasti ini sekaligus merupakan bukti paling awal atas penyebutan kata Israel diluar Bible.

Para pangeran bersujud sambil berkata, "Damai!"
Tidak ada yang berani mengangkat kepala diantara Sembilan Busur.
Sekarang Tehenu (Libya) telah hancur,
Hatti telah dijinakkan
Kanaan telah dijarah penuh kesengsaraan:
Ashkelon dapat diatasi;
Gezer telah ditaklukkan;
Yano'am telah musnah.
Israel telah kosong dan benihnya hilang;
Hurru telah menjanda karena Mesir.

Silang Data Bible dan Arkeologi

Namun yang membuat interpretasi atas kisah Musa dan Eksodus menjadi pelik adalah silang data antara Bible dan bukti-bukti arkeologis. Para sarjana Bible biasanya menempatkan peristiwa Eksodus pada tahun 1440 SM. Angka ini didapat dari perhitungan masa para raja sejak Sulaiman atau 480 tahun sebelum pembangunan Kuil Sulaiman di Yerusalem. Dalam Bible digambarkan orang-orang Israel ini diperbudak untuk pembangunan kota Ramesses.

Sumber Mesir sendiri juga mencatat pembangunan kota Pi-Ramessess yang didirikan pada masa pemerintahan Ramesses I dari Dinasti ke-19. Yang menarik kota ini baru dibangun pada tahun 1290 dan dijadikan ibukota Mesir pada masa pemerintahan Ramesses II (1279–1213 SM) jauh setelah peristiwa Eksodus. Sejumlah pekerja asing asal Kanaan juga terlibat dalam pembangunan kota, namun tidak ada rujukan sama sekali tentang Israel. Catatan tentang suku Israel baru ada pada prasasti Merneptah diatas dan saat itu pun diketahui lokasi mereka berada di Kanaan bukan Mesir. Yang ada di Mesir hanyalah catatan sekelompok nomaden asal Edom berikut nama suku mereka.

Catatan lengkap mengenai administrasi kelompok migran ini bisa dipahami karena sejak peristiwa Hyksos, para raja Mesir memperketat kontrol perbatasan. Di wilayah Timur mereka membangun sistem perbentengan yang mengawasi pergerakan para imigran hingga ke Kanaan. Selain itu mereka juga membangun jalur Horus yang merupakan jalur khusus militer langsung ke Palestina yang dilengkapi dengan sejumlah benteng lengkap dengan sumur dan tempat penampungan air serta gudang makanan dari perbatasan Mesir hingga Yerusalem, dengan semenanjung Sinai sebagai wilayah yang paling ketat diawasi.

Menurut Israel Finklestein dalam Bible Unearthed: Archaeology's New Vision of Ancient Israel and the Origin of Its Sacred Texts, survey arkeologis menggunakan teknik modern yang bahkan dapat mendeteksi sekelompok kecil hunter gatherer, telah berkali kali dilakukan di pegunungan Sinai dekat Monasteri Santa Katerina. Sayangnya tidak satupun petunjuk mengenai pelarian Bani Israel selama 40 tahun, entah itu struktur bangunan atau rumah, hingga jejak perkemahan, berikut material yang ditinggalkan, dari masa abad ke-14 hingga abad ke-12 yang dapat ditemukan. Yang menarik, semua situs yang disebutkan dalam peristiwa Eksodus benar-benar situs nyata hanya saja situs-situs ini baru ada jauh setelah Eksodus terjadi, yakni pada masa Kerajaan Judah.

Gambar semenanjung Sinai dan lokasi yang muncul dalam kisah Eksodus.

Finklestein kemudian mengutip pendapat Egyptolog Donald Redford yang menyatakan bahwa kisah Eksodus di Bible sebenarnya memiliki latar belakang pada abad ke-7 SM. Kesimpulan ini diambil dikarenakan nama-nama dan lokasi geografis yang muncul dalam kisah tersebut semuanya adalah milik abad ketujuh.

Contohnya nama-nama seperti Zaphenath-paneh (mentri utama Firaun), Potiphar (petugas kerajaan), Asenath (putri Potiphar), Potiphera (seorang pendeta) adalah nama-nama yang populer di abad 7 dan 6 SM. Selain itu tempat dimana Israel berkelana di gurun pasir baru ada pada abad ke-7 SM. Edom sendiri yang menjadi target utama penyerangan Israel setelah usai berkeliling di Sinai selama 40 tahun, baru menjadi kerajaan pada abad ke-7 SM. Sebelumnya wilayah Edom hanya dihuni oleh kaum nomaden saja.

Memang apa yang membuat abad ke-7 SM begitu istimewa? Kenapa para penulis Bible menggunakan rujukan dari era ini?

Josiah dan Realitas Politik Abad ke-7 SM

Abad ketujuh SM ditandai dengan perubahan politik besar-besaran di kawasan Mesir, levant hingga Mesopotamia. Kerajaan Neo-Assyria yang berkuasa di kawasan tersebut mulai meredup. Tak lama setelah kematian Ashurbanipal pada 631 SM kerajaan ini diguncang oleh perang saudara dan pemberontakan Babylonia. Sejumlah wilayah taklukkan pun mencoba memerdekan diri mereka termasuk kerajaan Judah yang saat itu diperintah oleh seorang raja alim nan reformis bernama Josiah.

Menyusul pembunuhan ayahnya Amon, Josiah naik tahta pada umur yang sangat belia, 8 tahun. Ia adalah raja Judah sekaligus keturunan ke-16 Nabi Dawud. Sebagai seseorang yang dibesarkan oleh Pendeta Tinggi, Josiah memiliki kefanatikan yang dalam terhadap agama. Pada tahun kedelapan pemerintahannya seorang Pendeta Tinggi Hilkiah yang hendak merenovasi Kuil Solomon menemukan gulungan Kitab Hukum yang lalu diserahkan ke sekretaris raja untuk dibaca. Demi mendengar Kitab Hukum tersebut Josiah merasa emosi dan merobek-robek bajunya. Sejak saat itu dimulailah periode reformasi agama yang dilakukan Josiah di seluruh negeri.

Richard Elliot Friedman dalam bukunya Who Wrote The Bible menuliskan paralelitas antara Musa dan Josiah yang tercatat dalam Deuteronomy, yang secara literal bermakna hukum kedua dan merupakan kitab kelima dalam Taurat.

  1. Frase none arose like him hanya merujuk kepada dua nama Musa dan Josiah. Dimana pada Deuteronomy 34:10 merujuk pada Musa, dan pada 2 Kings 23:25 merujuk pada Josiah.
  2. Perkataan Musa "And you must love the Lord your God with all your heart, all your soul, and all your strength" pada Deut 6:5 secara langsung merujuk pada Josiah yang dideskripsikian dengan "… who turned to the Lord with all his heart and soul and strength, obeying all the laws of Moses…"2 Kings 23:25
  3. Perintah Musa untuk berkonsultasi pada pendeta dalam urusan hukum yang pelik mendapatkan pembenarannya pada sosok Josiah yang meminta nasehat Hilkiah untuk berkonsultasi kepada Tuhan pada 2 Kings 22:13
  4. Perintah Musa untuk membaca Taurat di telinga mereka dilakukan oleh Josiah yang mengumpulkan seluruh penduduk untuk mendengarkan bacaan Taurat.
  5. Sebagaimana Musa, Josiah juga menghancurkan berhala dan patung-patung dan mensterilkan Kuil dari pendeta Baal dan penyembah Tuhan selain Yahweh.

Sampai sini kita bisa memahami bila para penulis Bible mempersonifikasikan Josiah dengan sosok Musa. Yakni sebagai seorang messiah, nabi yang membawa kejayaan bagi bangsa Israel. Impian ini lalu berhadapan dengan realitas politik regional, dimana pada saat bersamaan Mesir baru dibawah Psamtik I dari Dinasti ke-26 tengah melakukan konsolidasi kekuasaan dan berusaha muncul sebagai pemain dominan menyusul semakin melemahnya pamor Neo-Assyria.

Mereka kemudian menulis epik Musa berdasarkan situasi politik abad ke-7 SM dan menggunakan shared memory dengan bangsa Kanaan terkait pengusiran bangsa Hyksos dari Mesir yang terjadi ratusan tahun sebelumnya. Memori yang dipadukan dengan mitologi tentang Musa ini dijadikan alat propaganda dan nasionalisme sebagai kisah tentang penyelamatan, perjanjian dengan Tuhan dan bangsa terpilih yang dirayakan setiap tahun.

Inspirasi Tokoh

Bila Musa pada dasarnya adalah tokoh mitis yang merupakan motivasi politik, teologis dan nasionalisme Bani Israel, maka siapakah sebenarnya figur yang dijadikan inspirasi bagi pembentukan tokoh ini?

Sumber paling utama adalah keluarga kerajaan Mesir yang mana nama Musa terkait erat, seperti Tuthmose, Ahmose-ankh hingga Ramose. Tentu saja pemikiran ini masih bersifat spekulatif. Namun satu yang pasti nama Musa memiliki kaitan erat dengan nama-nama Mesir, sehingga pencarian bisa dimulai dari sana. Seperti yang dilakukan oleh Rolf Krauss yang menganggap nama Musa merupakan distorsi dari nama Firaun Amenmose (1200 SM) yang dilengserkan dari jabatannya dan namanya disederhanakan menjadi msy atau Moses.

Tokoh lain yang menjadi kandidat dari tokoh Musa adalah Osarseph. Kisah tokoh ini pertama kali dikisahkan oleh Manetho melalui Josephus. Osarseph sendiri seorang pendeta Mesir yang memimpin pasukan yang terdiri dari para penderita lepra dan orang-orang yang dianggap tidak suci untuk melawan Firaun Amenophis. Dengan bantuan Hyksos, Osarseph berhasil menggulingkan Firaun dan melakukan penisataan terhadap Tuhan bangsa Mesir. Amenophis sendiri berhasil melakukan balas dendam dan merebut kembali kerajaan Mesir serta mengusir Osarseph dari Mesir. Meski dikemudian hari Osarseph merubah namanya menjadi Musa namun banyak ahli yang menganggap kisah tersebut hanyalah mitologi semata.

Tokoh terakhir yang boleh jadi menginspirasi nama Musa adalah Raja Mesya dari Moab. Nama Mesya sendiri diabadikan baik dalam Bible maupun prasasti Mesya yang ditulis pada tahun 840 SM. Hanya kebalikan dari Musa, kisah Mesya adalah kisah perlawanan terhadap Israel dimana raja tersebut berusaha memberontak dari kewajiban memberikan upeti tahunan yang sangat memberatkan ke kerajaan tersebut. Para sarjana sendiri berpikir bahwa kedua nama, yakni Musa dan Mesya adalah identik.

Gambar: Prasasti Mesya di Museum Louvre Prancis

Kesimpulan

Terlepas dari statusnya sebagai tokoh mitologis, sosok Musa adalah tokoh yang sangat inspiratif. Dalam Quran sendiri Musa merupakan nama yang paling banyak disebut yakni 135 kali. Menunjukkan arti pentingnya kisah tokoh ini dalam perjalanan misi Nabi Muhammad, yang oleh sejumlah kalangan sering dipersepsikan sebagai sosok nabi yang bersenjata sebagaimana Musa. Kita bahkan dapat dengan mudah menganalogikan hubungan antara Musa dan Bani Israil, seperti hubungan antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy yang keras kepala menolak kebenaran wahyu. Meskipun relasi ini juga bisa digunakan sebagai alat polemik dengan komunitas Yahudi Madinah. Apapun itu, kisah Musa merupakan contoh paling baik bagaimana mitos dapat menggerakkan, memotivasi, dan mengarahkan kompas moral manusia, baik pada masa lalu, sekarang atau bahkan di masa yang akan datang.